Budget Seret, Atlet Panjat Tebing Terancam Kurang Persiapan Jelang Asian Games 2026 - inilah
KecilBesar
Ketua Umum (Ketum) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid, mengaku harus bekerja ekstra menjaga program pembinaan atlet di tengah keterbatasan dana akibat efisiensi anggaran.
Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan ialah berkurangnya kesempatan atlet mengikuti kejuaraan internasional sebagai bagian dari persiapan menuju Asian Games 2026 yang akan berlangsung pada September mendatang.
"Kan ini kami juga persiapan untuk Asian Games kan? Nah, lalu kemudian itu September. Jadi menjelang Asian Games kan biasanya kita selalu mencoba untuk mengirim atlet-atlet kita ke luar negeri agar mereka lebih terlatih kan melihat lawannya, ada motivasi yang lebih besar juga, gitu," kata Yenny kepada Inilah.com saat dihubungi, Selasa (7/7/2026).
Namun, keterbatasan anggaran membuat rencana tersebut tidak mudah diwujudkan. Bahkan, World Climbing Series Chamonix 2026 di Prancis pada 10-12 Juli mendatang, berpotensi menjadi ajang internasional terakhir yang dapat diikuti atlet Indonesia dalam waktu dekat.
"Dengan keterbatasan anggaran begini ya susah semua. Gitu. Mungkin sampai Chamonix ini, dan itu pun sangat dibatasi atlet yang berangkat. Gitu. Iya," tuturnya.
Yenny menjelaskan, selama ini pemerintah umumnya memberikan dukungan untuk program pemusatan latihan nasional (pelatnas) serta keikutsertaan atlet pada kejuaraan luar negeri. Sementara penyelenggaraan kompetisi di dalam negeri sepenuhnya menjadi tanggung jawab FPTI.
Namun, persoalan lain muncul karena dukungan pelatnas saat ini hanya difokuskan untuk atlet yang diproyeksikan tampil di Asian Games. Padahal, jumlah atlet nasional yang dibina FPTI jauh lebih banyak.
"Nah, pelatnas hanya yang Asian Games, padahal atlet kita kan banyak sekali. Yang Asian Games kan cuma sembilan orang. Atlet kita ada 26 orang. Kan jadi serba salah kalau yang hanya di-support hanya sembilan orang, sisanya enggak di-support kan akan masalah," bebernya.
Menurut Yenny, pembinaan prestasi tidak bisa dilakukan secara instan menjelang kejuaraan. Karena itu, FPTI selama ini memilih menerapkan sistem pelatnas terpusat agar program latihan berjalan lebih efektif.
"Dan memang selama ini strategi kami harus selalu fokus. Jadi sentralisasi pelatnas, bukan desentralisasi. Kalau desentralisasi jadi enggak fokus kan?," tuturnya.
"Ini sekarang sedang memutar otak gimana caranya dengan biaya yang seminim mungkin ini dengan budget anggaran yang sangat minim, kita tetap bisa mengakomodasi sebanyak mungkin atlet. Ya itu tadi prihatin jadinya modelnya," kata dia menambahkan.
Saat ini, atlet-atlet pelatnas FPTI juga dipulangkan sementara menyusul rencana pemindahan lokasi pemusatan latihan. Federasi menargetkan pelatnas dapat kembali berjalan di tempat yang baru dalam bulan ini.