Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured Lamine Yamal Piala Dunia Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial

    Sujud Syukur Lamine Yamal Jadi Simbol Kedamaian dan Diplomasi Iman - Times Indonesia

    3 min read

     

    Sujud Syukur Lamine Yamal Jadi Simbol Kedamaian dan Diplomasi Iman

    A-AA+

    Jakarta – Wonderkid Timnas Spanyol, Lamine Yamal, mencuri perhatian jagat sepak bola lewat aksi emosionalnya di panggung Piala Dunia 2026. 

    Usai mencetak gol perdana dalam kariernya di ajang bergengsi tersebut, pemain berusia 18 tahun itu langsung melakukan selebrasi sujud syukur di tengah lapangan.

    Momen bersejarah tersebut tercipta saat Spanyol sukses melibas Arab Saudi dengan skor telak 4-0 dalam laga kedua Grup H yang berlangsung di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat, Minggu (21/6/2026).

    Sebagai seorang Muslim yang taat, Yamal langsung berlutut dan menempelkan dahinya ke rumput lapangan. Aksi tersebut menjadi simbol kerendahan hati dan rasa terima kasih yang mendalam atas pencapaian besarnya di level internasional.

    Fenomena religius di lapangan hijau ini mendapat apresiasi dari akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Edi Sugianto. Menurutnya, aksi yang ditunjukkan oleh bintang muda Barcelona tersebut membawa pesan yang sangat kuat bagi penonton global.

    "Bagi saya itu bukan sekadar selebrasi biasa. Di tengah gemuruh stadion, gerakan dahi menyentuh rumput itu adalah simbol kerendahan hati yang kuat. Sang pemain ingin menegaskan bahwa segala talenta dan kemenangan sejatinya datang dari Sang Pencipta, bukan karena kehebatannya semata," katanya kepada TIMES Indonesia, Senin (22/6/2026).

    Secara tidak langsung, Edi menilai Yamal sedang menunjukkan esensi dakwah bil hal atau berdakwah melalui tindakan nyata. Tanpa kesan menggurui, visualisasi rasa syukur yang damai ini justru memantik rasa penasaran jutaan pasang mata yang menyaksikan pertandingan tersebut.

    "Lapangan hijau secara organik berubah menjadi mimbar yang mengenalkan wajah Islam yang sejuk," jelas pria yang juga dikenal sebagai penggemar berat klub Arsenal ini.

    Lebih lanjut, Edi mengaitkan fenomena ini dengan atmosfer Liga Inggris dalam beberapa tahun terakhir, di mana kehadiran para bintang Muslim yang konsisten beribadah dan menjaga profesionalisme terbukti mampu menyentuh hati masyarakat Barat.

    Dampak sosial dari kehadiran para pesepak bola ini sangat nyata, salah satunya membantu menurunkan angka Islamofobia secara signifikan di kalangan suporter. Prasangka buruk perlahan runtuh, digantikan oleh rasa hormat, bahkan melahirkan yel-yel pujian kreatif dari tribun penonton.

    "Pada akhirnya, sujud di lapangan adalah diplomasi iman yang sangat efektif di era modern. Lewat kombinasi prestasi dan ketakwaan, para pemain seperti Yamal sukses membangun jembatan toleransi. Mereka membuktikan bahwa sepak bola mampu meredam kebencian dan menyebarkan kedamaian global," ujarnya. (*)

    Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
    Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
    Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

    Komentar
    Additional JS