Respons Keras 13 Negara Peserta Piala Dunia Usai Presiden UEFA Sindir Format Baru - Kompas
Respons Keras 13 Negara Peserta Piala Dunia Usai Presiden UEFA Sindir Format Baru
KOMPAS.com - Sebanyak 13 negara peserta Piala Dunia secara resmi melayangkan protes dan kecaman terhadap pernyataan Presiden UEFA, Aleksander Ceferin.
Polemik ini muncul di tengah bergulirnya ajang Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan secara bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, di mana sebelumnya perhelatan ini juga telah diwarnai berbagai tantangan operasional.
Isu seputar perhelatan akbar Piala Dunia edisi kali ini memang cukup beragam, mulai dari masalah visa di perbatasan AS yang menghambat mobilitas suporter, hingga mahalnya harga tiket dan konsumsi di stadion.
Namun, sorotan utama kini tertuju pada kritik Ceferin terkait perluasan format kompetisi menjadi 48 tim.
Penilaian negatif dari petinggi sepak bola Eropa tersebut memicu reaksi keras dari 13 negara, yakni Cape Verde, Curacao, Uzbekistan, Kongo, Haiti, Aljazair, Tunisia, Maroko, Mesir, Ghana, Senegal, Afrika Selatan, dan Pantai Gading.
Baca juga: Hasil Jerman Vs Curacao 7-1, Felix Nmecha Cetak Gol Tercepat di Piala Dunia 2026
Sindiran Laga Tak Menarik dan Reaksi Bersama
Ceferin sebelumnya melontarkan komentar bahwa perluasan jumlah peserta berpotensi menyajikan pertandingan yang dinilainya kurang menarik karena adanya penurunan standar kompetisi berkat kuota kualifikasi yang bertambah.
Menanggapi hal tersebut, ketiga belas negara tersebut merilis sebuah pernyataan bersama yang menyuarakan kekecewaan mendalam mereka terhadap pandangan tersebut.
“Dengan hormat namun tegas, kami menolak komentar-komentar tersebut," dikutip dari Give Me Sport, Senin (15/6/2026).
Baca juga: Suporter Iran Kecewa Masalah Visa Tim Melli di Piala Dunia 2026
"Bagi negara kami, tidak ada pertandingan Piala Dunia yang tidak penting. Bagi Cape Verde, Curacao, dan Uzbekistan, kualifikasi ke Piala Dunia FIFA merupakan pencapaian bersejarah dan perwujudan mimpi yang telah diimpikan oleh beberapa generasi.”
"Bagi negara-negara seperti Kongo dan Haiti, kembali ke panggung sepak bola terbesar setelah absen lama memiliki makna khusus bagi jutaan pendukung yang telah menunggu bertahun-tahun, dan dalam beberapa kasus puluhan tahun, untuk momen ini."
"Mengatakan bahwa pertandingan-pertandingan ini kurang penting adalah hal yang sangat mengecewakan dan gagal mengakui upaya, pengorbanan, dan aspirasi para pemain, pelatih, klub, pemimpin sepak bola, dan pendukung di seluruh dunia," lanjut bunyi pernyataan tersebut.

Lihat Foto
Presiden UEFA Aleksander Ceferin memberi isyarat saat konferensi pers menyusul pertemuan komite eksekutif di markas UEFA, di Nyon, Swiss pada 4 Desember 2019.(AFP/FABRICE COFFRINI)
Baca juga: Link Live Streaming Belanda Vs Jepang di Grup F Piala Dunia 2026
Simbol Kebanggaan dan Universalitas Sepak Bola
Pernyataan bersama tersebut juga menekankan arti penting dari setiap proses yang dilalui oleh negara-negara peserta untuk bisa menembus putaran final.
“Di balik setiap kualifikasi terdapat kerja keras dan investasi selama bertahun-tahun. Di balik setiap tim nasional terdapat seluruh komunitas dan jutaan orang yang melihat sepak bola sebagai sumber kebanggaan, harapan, dan persatuan."
"Sepak bola bukan milik sekelompok negara tertentu. Kekuatannya berasal dari universalitasnya. Piala Dunia FIFA adalah kompetisi sepak bola terbesar di dunia justru karena menyatukan berbagai budaya, sejarah yang berbeda, dan perjalanan sepak bola yang berbeda.”
Baca juga: Piala Dunia 2026 Dibuka Laga Meksiko Vs Afrika Selatan, Javier Aguirre Punya Kenangan Manis 1986
“Bagi banyak negara, partisipasi dalam Piala Dunia FIFA bukan hanya prestasi olahraga. Ini adalah momen yang menginspirasi satu generasi, mempercepat perkembangan sepak bola, dan menciptakan kenangan yang abadi."
"Kami percaya bahwa setiap negara yang lolos kualifikasi layak mendapatkan rasa hormat. Setiap tim telah mendapatkan tempatnya berdasarkan prestasi. Setiap pendukung berhak untuk bermimpi. Setiap pertandingan memiliki makna bagi jutaan orang di seluruh dunia."
“Oleh karena itu, kami menolak komentar Presiden UEFA dan menegaskan kembali keyakinan kami bahwa pertumbuhan sepak bola harus terus menciptakan peluang, menginspirasi generasi baru, dan memperkuat sifat global sejati dari permainan kami. “Setiap tim lolos berdasarkan prestasi. Setiap pertandingan penting.”
Baca juga: Link Live Streaming Jerman Vs Curacao di Grup E Piala Dunia 2026
Standar Ganda Format Kompetisi
Di sisi lain, pandangan sang pemimpin otoritas sepak bola Eropa tersebut menuai sorotan karena dinilai bertolak belakang dengan kebijakannya sendiri.
Sebab, UEFA juga telah merombak format Liga Champions agar dapat menampung lebih banyak tim dan menyajikan jumlah laga yang lebih padat, yang memicu masalah penjadwalan hingga risiko cedera pemain.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang