0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Juara Panjat Tebing Putra Tri Ramadani Spesial World Climbing Series

    Putra Tri Ramadani Ukir Sejarah, Indonesia Raih Emas Lead Pertama di World Climbing Series - Kompas

    7 min read

     

    Putra Tri Ramadani Ukir Sejarah, Indonesia Raih Emas Lead Pertama di World Climbing Series



    KOMPAS.com - Atlet panjat tebing Indonesia Putra Tri Ramadani mencatatkan sejarah bagi olahraga panjat tebing nasional setelah meraih medali emas nomor lead pada World Climbing Series Praha 2026 di Ceko, Senin (8/6/2026) dini hari WIB.

    Pencapaian tersebut menjadikan Putra sebagai atlet Indonesia pertama yang berhasil menjuarai nomor lead dalam ajang World Climbing Series.

    Ia bahkan menjadi orang Asia Tenggara pertama yang meraih emas World Climbing Series nomor lead.

    Baca juga: Gagal Juara di Singapura, Fajar/Fikri Bidik Polytron Indonesia Open 2026

    Pemanjat yang akrab disapa Srondeng itu tampil impresif di partai final dengan membukukan skor 43, unggul atas para pesaingnya dari negara-negara kuat panjat tebing dunia.

    Hal Meringankan Tuntutan 4 TNI Penyiram Air Keras Andrie Yunus: Jujur dan Menyesal

    "Srondeng membuat sejarah," kata Manajer Tim Nasional Panjat Tebing Indonesia, Wahyu Pristiawan Buntoro, seperti dikutip dari ANTARA.

    Di podium, Putra mengungguli wakil Jepang Neo Suzuki yang meraih medali perak dengan skor 39.

    Baca juga: Indonesia ke Final IFA7 World Championship 2026, Sinar Talenta Papua

    Sementara medali perunggu menjadi milik pemanjat Austria Jakob Schubert yang mencatat skor 37.

    "Selamat baginya, selamat bagi panjat tebing Indonesia. Medali emas pertama Indonesia di luar nomor speed," tutur komentator siaran resmi ketika Putra menerima medalinya di atas podium.

    "Luar biasa darinya. Momen hebat."

    Kalahkan Deretan Pemanjat Elite Dunia

    Perjalanan Putra menuju podium tertinggi tidak berlangsung mudah. Pada babak final, atlet asal Jawa Timur tersebut harus bersaing dengan tujuh pemanjat elite dunia.

    Baca juga: Lima Kali Jadi “Manusia Silver”, Fajar/Fikri Bingung Antiklimaks di Final

    Selain Suzuki dan Schubert, final juga diikuti Sorato Anraku dan Satone Yoshida dari Jepang, Adam Ondra dari Ceko, Luka Potocar dari Slovenia, serta Filip Schenk dari Italia.

    Putra menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang tampil pada final disiplin lead di Praha.

    Sebelumnya, ia berhasil memastikan tempat di babak penentuan setelah menembus delapan besar pada fase kualifikasi.

    Baca juga: Dari Kudus Menuju Timnas, Talenta Sepak Bola Putri Indonesia Terus Muncul

    Di semifinal, Putra menempati posisi ketiga dengan skor 37+, di bawah Sorato Anraku dan Neo Suzuki yang sama-sama mencatat skor 38+.

    Pada babak final, ia mampu meningkatkan performanya dan mencatat skor terbaik untuk mengamankan medali emas bersejarah bagi Indonesia.

    Emas Pertama, tetapi Masih Banyak Evaluasi

    Meski sukses menorehkan sejarah, Putra menegaskan dirinya tidak ingin cepat berpuas diri.

    Baca juga: Polytron Indonesia Open 2026, Alwi Farhan Tak Mau Kalah Lawan Jojo

    Menurut dia, masih banyak aspek yang perlu dibenahi agar mampu tampil lebih konsisten pada kompetisi tingkat dunia.

    "Ini adalah final kedua saya dan emas pertama. Tentu sangat bahagia karena rute di final sangat sulit, terutama di bagian atas sampai tangan saya pump atau kelelahan mencengkeram," ujar Putra dalam keterangan PP FPTI.

    Ia menyebut keberhasilan tersebut menjadi tambahan motivasi untuk terus meningkatkan prestasi dan mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional.

    Baca juga: Polytron Indonesia Open, Gemuruh Istora Kunci Tiwi/Fadia Tikung Ganda Korsel

    Putra juga mengakui bahwa jalur final di Praha memiliki tingkat kesulitan tinggi yang menuntut fokus serta ketahanan fisik maksimal.

    "Pekerjaan rumahnya adalah saat orientasi jalur dan mengatasi rasa grogi," kata dia.

    Melanjutkan Tren Perkembangan

    Keberhasilan di Praha menjadi perkembangan signifikan dalam karier Putra di nomor lead.

    Baca juga: Ironi Fajar/Fikri, Kalah di Istora Saat Baru Saja Naik Ranking 2 Dunia

    Sebelumnya, ia sempat menembus final World Climbing Series Koper, Slovenia, pada September 2025. Namun saat itu Putra harus puas finis di posisi keenam dengan skor 40+ tanpa meraih medali.

    Kurang dari setahun kemudian, pemanjat Indonesia tersebut berhasil naik ke podium tertinggi dan mencatatkan namanya dalam sejarah panjat tebing nasional.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    5 Provinsi Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan 2026, Mana Saja?

    Komentar
    Additional JS