0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Dunia Internasional Featured Piala Dunia Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial Wisata

    Kirim 8 Tim, Jazirah Arab Berharap Piala Dunia 2026 Bangkitkan Pariwisata - detik

    3 min read

     

    Kirim 8 Tim, Jazirah Arab Berharap Piala Dunia 2026 Bangkitkan Pariwisata

    Jakarta

    -

    Piala Dunia FIFA 2026 yang digelar di AS, Kanada, dan Meksiko siap menjadi panggung terbesar bagi negara Jazirah Arab. Negara-negara Timteng yakin, Pildun 2026 bawa berkah.

    Rekor baru tercipta dengan lolosnya delapan tim dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) ke putaran final turnamen tahun ini. Arab Saudi, Qatar, Yordania, Maroko, Tunisia, Mesir, Aljazair, dan Irak masuk dalam daftar tim yang akan berlaga, menggandakan rekor Arab sebelumnya yang ditetapkan pada tahun 2018.

    Di antara negara-negara tersebut, Yordania mencatatkan sejarah dengan tampil untuk pertama kalinya di Piala Dunia, sementara Irak berhasil kembali setelah absen panjang selama 40 tahun, seperti dikutip dari Gulf News pada Minggu (14/6/2026)

    Turnamen yang diperluas ini mempertemukan 48 tim untuk pertama kalinya dan diperkirakan akan menarik hingga 6,5 juta penonton. Berdasarkan studi dari Oxford Economics, ajang akbar ini berpotensi menambah hingga USD 40,9 miliar (Rp Rp727,57 triliun) pada PDB global.

    Namun, penyelenggara memperkirakan dampak akhirnya mungkin akan lebih sederhana setelah memperhitungkan pengeluaran nyata seperti biaya tiket, biaya perjalanan, harga akomodasi hotel, serta tekanan infrastruktur yang dihadapi oleh kota-kota tuan rumah.

    Josh Gilbert, Analis Utama Timur Tengah di eToro, menggarisbawahi bahwa kisah yang lebih besar bagi perekonomian Arab sebenarnya terletak pada eksposur luar biasa yang didapatkan dari acara sepak bola global terbesar ini. Menurutnya, keuntungan finansial langsung bukanlah satu-satunya target utama dari partisipasi ini.

    "Bagi negara-negara yang terlibat, hadiahnya bukan hanya turnamen itu sendiri, tetapi perhatian yang didapat. Perjalanan yang kuat di turnamen menempatkan suatu negara di hadapan audiens global, menghasilkan eksposur yang tidak dapat ditiru oleh anggaran pariwisata mana pun," kata Gilbert.

    Kampanye fantastis Maroko pada tahun 2022 tetap menjadi studi kasus regional yang paling jelas mengenai efek domino sepak bola. Keberhasilan negara tersebut mencapai babak semifinal di Qatar secara langsung mendongkrak industri pariwisata mereka, di mana Maroko kemudian menyambut 14,5 juta pengunjung pada tahun 2023, yang berarti mengalami peningkatan sebesar 34% dari tahun sebelumnya.

    Sepak bola memang bukanlah satu-satunya alasan di balik lonjakan tersebut, tetapi Gilbert mengatakan turnamen tersebut sangat membantu menjaga Maroko tetap menjadi bagian dari percakapan global dan mendukung permintaan pariwisata jauh setelah peluit akhir dibunyikan.

    Efek positif yang sama kini dapat bekerja di jajaran negara Arab yang jauh lebih luas, terutama jika satu atau lebih tim berhasil melaju jauh di turnamen 2026. Berbagai sektor seperti badan pariwisata, maskapai penerbangan, perhotelan, restoran, pengecer, hingga merek konsumen dipastikan akan mendapatkan keuntungan besar dari visibilitas tinggi yang datang bersama momentum Piala Dunia.

    "Demam Piala Dunia sulit diabaikan, dan meluas jauh melampaui kota-kota tuan rumah," ujarnya.

    Hal ini tentu sangat relevan bagi Uni Emirat Arab (UEA) dan wilayah Teluk yang lebih luas, di mana sektor pariwisata dan perhotelan memang telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai gambaran tren positif ini, kawasan Gulf Cooperation Council (GCC) sukses menarik 72,2 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2024, meningkat 51,5% dari tahun 2019, sementara hotel-hotel di UEA menyambut rekor baru dengan 32,34 juta tamu pada tahun 2025.

    Meskipun UEA tidak menjadi tuan rumah pertandingan, dampak ekonomi Piala Dunia diperkirakan akan tetap mengalir kuat melalui saluran pengeluaran lokal. Para penggemar sepak bola kemungkinan besar akan mengeluarkan uang untuk penerbangan, penginapan hotel, pesta menonton, bar olahraga, restoran, layanan pengiriman makanan, pembelian merchandise, iklan, sistem pembayaran, hingga langganan platform streaming.

    Dengan demikian, penyiar, platform digital, penyedia pembayaran, dan merek konsumen juga diperkirakan akan mendapat manfaat besar dari peningkatan keterlibatan masyarakat selama turnamen berlangsung.

    Arab Saudi telah memimpin investasi sepak bola regional dalam beberapa tahun terakhir, sementara Qatar, UEA, dan Maroko juga telah menggunakan olahraga sebagai bagian dari rencana diversifikasi ekonomi yang lebih luas. Strategi jangka panjang ini sengaja dibangun di sekitar pariwisata, peningkatan visibilitas global, dan pertumbuhan sektor konsumen untuk mengurangi ketergantungan pada minyak.

    Sebagai penutup, Gilbert menilai turnamen ini menjadi momentum pelengkap yang sangat tepat untuk target jangka panjang kawasan tersebut.

    "Piala Dunia tidak akan mengubah perekonomian regional dengan sendirinya, tetapi ini merupakan dorongan bagi sektor-sektor yang sudah bergerak ke arah yang benar dan dengan lebih banyak tim Arab yang terlibat daripada sebelumnya, MENA memiliki panggung yang lebih besar," kata Gilbert.

    (bnl/wsw)

    Komentar
    Additional JS