Adidas: Bola Final Piala Dunia 2026 Bukan Buatan Indonesia - Inilah
KecilBesar
Adidas Indonesia akhirnya angkat bicara. Kehebohan soal label "Made in Indonesia" yang terlihat di bocoran bola final Piala Dunia 2026 mendapat jawaban resmi langsung dari perusahaan asal Jerman itu.
Senior Manager Brand Activation Adidas Indonesia, Cinita Dewi Mayakatri, menegaskan bola yang digunakan dalam pertandingan — termasuk di laga final — bukan buatan Indonesia.
"Kalau yang dipakai (tanding) dan yang paling mahal, termasuk juga di final Piala Dunia 2026 itu bukan dari Indonesia. Tapi bola itu ada turunannya. Itu ada di harga. Tapi yang buat tanding bukan buatan Indonesia," kata Cinita saat dikonfirmasi Inilah.com di Adidas Brand Center, Grand Indonesia, Jakarta, Senin (22/6/2026).
Pernyataan Cinita meluruskan narasi yang ramai beredar di media sosial sepekan terakhir.
Bermula dari Foto Bocoran
Kehebohan bermula dari foto bocoran bola final Adidas Trionda yang pertama kali dipublikasikan akun X @Footy_Headlines — situs pelacak perlengkapan sepak bola paling dipercaya di dunia — pada 14 hingga 16 Juni 2026.
Foto-foto itu diperoleh melalui kolektor sepak bola Christopher Carrera, menampilkan bola final yang memadukan palet warna putih, hitam, dan emas, dengan nama-nama kota tuan rumah seperti Miami, Dallas, Atlanta, dan New York/New Jersey tercetak dalam huruf distressed di atas panel gelap.
Warganet yang memperbesar detail foto itu menemukan tulisan kecil di salah satu panel: "Made in Indonesia" dan "Fabrique En Indonesie." Foto tersebut menyebar deras, disertai narasi bahwa bola penentu juara dunia di MetLife Stadium, New Jersey, 19 Juli mendatang, lahir dari tangan pekerja Indonesia.
Perlu dicatat, Footy_Headlines sama sekali tidak menyebut Indonesia dalam keterangan foto bocoran itu. Label "Made in Indonesia" ditemukan secara mandiri oleh warganet dari detail gambar — bukan klaim resmi dari akun yang memosting bocoran tersebut.
Dua Jenis Bola, Dua Tempat Produksi
Penjelasan Cinita membuka fakta yang selama ini jarang dipahami publik: Adidas memproduksi bola resmi Piala Dunia dalam dua kategori berbeda, dengan asal produksi yang berbeda pula.
Bola pertandingan resmi — yang dipakai di seluruh laga Piala Dunia 2026 termasuk final — diproduksi oleh Forward Sports, perusahaan manufaktur asal Sialkot, Pakistan. Forward Sports telah menjadi pemasok bola resmi FIFA untuk empat Piala Dunia berturut-turut: Brazuca untuk Brasil 2014, Telstar 18 untuk Rusia 2018, Al Rihla untuk Qatar 2022, dan kini Trionda untuk 2026.
Sementara bola dengan label "Made in Indonesia" yang terlihat di bocoran itu adalah varian turunan — replika atau suvenir — yang dijual ke konsumen di pasaran dengan harga lebih terjangkau, tanpa teknologi sensor yang tertanam di bola pertandingan resmi.
Pola ini bukan baru. Hal yang persis sama terjadi pada Piala Dunia Qatar 2022. PT Global Way Indonesia (GWI) kala itu ditunjuk Adidas sebagai mitra resmi untuk memproduksi suvenir bola Al Rihla — bukan bola pertandingan. PT GWI sendiri tidak pernah mengklaim memproduksi bola resmi untuk pertandingan. Namun narasi "bola Piala Dunia buatan Indonesia" terlanjur viral, hingga Adidas harus turun tangan memberi klarifikasi langsung
Bola Final Trionda: Tercanggih Sepanjang Sejarah
Bola pertandingan resmi Trionda yang dipakai di lapangan — termasuk di laga final — adalah produk rekayasa tinggi yang jauh berbeda dari versi replikanya.
Trionda tersusun dari empat panel polyurethane yang direkatkan secara termal, jumlah panel paling sedikit dalam sejarah bola Piala Dunia.
Bola ini dilengkapi Connected Ball Technology berupa chip IMU (Inertial Measurement Unit) yang dipasang di sisi salah satu panel untuk memberi sistem VAR data pergerakan bola yang sangat akurat dalam hitungan detik
Sensor IMU di dalam Trionda menangkap data gerakan dan akselerasi 500 kali per detik, memetakan pergerakan bola dalam ruang tiga dimensi secara real-time.
Data itu langsung tersinkron ke sistem Semi-Automated Offside Technology (SAOT) dan kecerdasan buatan, memungkinkan wasit menentukan titik benturan offside atau handball dengan presisi tinggi.
Teknologi ini dikembangkan Adidas bersama Kinexon, mengombinasikan sensor IMU 500Hz dengan AI untuk melacak data posisi bola dan memberi peringatan kepada wasit video dan sistem VAR secara real-time. Karena bekerja terus-menerus selama 90 menit, bola Trionda harus diisi daya sebelum setiap pertandingan.
Versi replika atau suvenir yang diproduksi di Indonesia tidak memiliki teknologi ini.
Indonesia Tetap Punya Peran
Klarifikasi Adidas bukan berarti Indonesia sama sekali tidak berkontribusi di Piala Dunia 2026. PT Global Way Indonesia, produsen perlengkapan olahraga yang berbasis di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, mempekerjakan lebih dari 2.000 pekerja dan telah menjadi mitra resmi Adidas sejak Piala Dunia 2022. Jutaan bola suvenir dan replika resmi Adidas — yang dijual secara global — diproduksi di pabrik mereka.
Peran itu nyata dan berdampak ekonomi langsung. Hanya saja, bola yang melayang di kaki Kylian Mbappé, Lamine Yamal, atau siapapun yang akhirnya mengangkat trofi di New Jersey pada 19 Juli mendatang, datang dari Sialkot — bukan Madiun.