Rivalitas Hanya 90 Menit! Suporter Persebaya Sambut Plat N dengan Bunga - Patrolmedia
Rivalitas Hanya 90 Menit! Suporter Persebaya Sambut Plat N dengan Bunga - Patrolmedia.co.id

Aksi Damai Bonek dan Bonita di Surabaya
Puluhan suporter Persebaya Surabaya, yang dikenal sebagai Bonek dan Bonita, melakukan aksi damai di Simpang Empat Polisi Istimewa, Darmo, Surabaya, pada Selasa (5/5/2026) malam. Mereka membagikan bunga kepada pengendara berpelat “N” asal Malang sebagai simbol persaudaraan di tengah memanasnya rivalitas antar suporter sepak bola setelah insiden sweeping kendaraan warga Surabaya di kawasan Pantai Wedi Awu, Malang.
Di tengah lalu lintas yang padat, kawasan Darmo menunjukkan pemandangan yang berbeda. Sekitar 50 Bonek dan Bonita berdiri di tepi jalan sambil membawa bunga, lalu menyapa para pengendara dari luar kota dengan senyum ramah. Fokus mereka tertuju pada kendaraan berplat “N” asal Malang yang melintas di kawasan tersebut. Satu per satu pengendara diberi bunga sebagai bentuk pesan damai dan penolakan terhadap aksi balasan yang sempat memicu kekhawatiran publik.
Respons Damai Setelah Insiden Sweeping di Malang
Aksi simpatik ini muncul setelah beredarnya video sweeping kendaraan berplat “L” milik warga Surabaya di Pantai Wedi Awu, Malang. Video tersebut sempat memancing emosi dan keresahan di kalangan suporter sepak bola Jawa Timur. Namun, suporter Persebaya Surabaya memilih merespons situasi dengan cara berbeda. Mereka tidak turun ke jalan untuk mencari konfrontasi, melainkan menunjukkan pesan persaudaraan melalui aksi bagi bunga di pusat Kota Surabaya.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan, S.I.K., M.H., M.Si. hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Kehadiran aparat kepolisian sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap gerakan damai yang dilakukan suporter Green Force.
“Kegiatan yang kami lakukan hari ini menjadi bentuk komitmen bahwa kita tidak terpancing dan tidak terprovokasi. Sejak awal, niat kami jelas, yaitu menjaga hubungan baik, dengan siapa pun,” ujarnya.
Menurutnya, rivalitas sepak bola semestinya tidak berkembang menjadi permusuhan antardaerah. Kompetisi cukup berlangsung di lapangan, sementara hubungan antarmanusia tetap harus dijaga dengan baik.
“Sepak bola seharusnya menjadi ruang kompetisi di dalam lapangan, namun tetap menjunjung tinggi persaudaraan di luar lapangan,” imbuhnya.
Bonek dan Bonita Pilih Jadi Penjaga Suasana
Sekitar 50 Bonek dan Bonita yang terlibat dalam aksi itu tampak menjaga suasana tetap tenang sepanjang kegiatan berlangsung. Tidak ada teriakan provokatif maupun intimidasi terhadap pengguna jalan yang melintas. Bunga yang dibagikan menjadi simbol sederhana untuk meredam situasi yang sempat memanas di media sosial.
Di tengah rivalitas panjang sepak bola Jawa Timur, langkah itu menjadi pesan kuat suporter juga bisa hadir sebagai penjaga kedamaian. Pentolan Bonek, Hasan Tiro, menegaskan aksi serupa bukan pertama kali dilakukan. Menurutnya, komunitas suporter memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga hubungan baik antarpendukung klub.
“Untuk aksi hari ini, ini bukan yang pertama kali kami lakukan. Kami hanya ingin menunjukkan bahwa ada cara lain dalam merespons situasi, dengan cara yang lebih damai,” katanya.
Hasan Tiro menilai rivalitas sepak bola tetap penting sebagai bagian dari atmosfer pertandingan. Namun, rivalitas tidak boleh berubah menjadi kebencian yang merugikan masyarakat umum. Ia berharap aksi sederhana tersebut dapat menjadi contoh bagi kelompok suporter lain di berbagai daerah.
Rivalitas Persebaya Surabaya dan Arema FC Diminta Tetap Sehat
Rivalitas antara suporter Persebaya Surabaya dan Arema FC selama ini dikenal memiliki tensi tinggi. Dalam beberapa kesempatan, gesekan antarsuporter kerap muncul dan berdampak pada keamanan masyarakat. Karena itu, aksi damai di Simpang Empat Polisi Istimewa dinilai menjadi momen penting untuk menunjukkan sisi lain dari kultur suporter sepak bola.
Di tengah derasnya konten provokasi di media sosial, pesan damai justru hadir dari jalanan Kota Surabaya. Hasan Tiro kembali mengingatkan rivalitas cukup berlangsung selama pertandingan berjalan. Setelah peluit akhir dibunyikan, suporter tetap harus bisa hidup berdampingan tanpa rasa permusuhan.
“Rivalitas cukup berlangsung 90 menit di dalam lapangan. Setelah itu, kita tetap bisa duduk bersama, ngobrol, dan saling menghargai,” imbuhnya.
Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat yang melintas di lokasi aksi. Beberapa pengendara bahkan terlihat berhenti sejenak untuk menerima bunga dan menyampaikan apresiasi kepada para suporter.
Kasus Sweeping Diserahkan ke Aparat Penegak Hukum
Terkait kasus sweeping kendaraan warga Surabaya di Malang, Hasan Tiro memastikan pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian. Ia meminta semua pihak menahan diri dan tidak melakukan aksi balasan. Menurutnya, proses hukum penting untuk memberikan keadilan sekaligus efek jera kepada pelaku. Langkah tersebut juga dinilai menjadi cara terbaik untuk mencegah konflik semakin meluas.
“Untuk kasus tersebut, kami dari Surabaya sepenuhnya menyerahkan kepada pihak kepolisian. Kami percaya, dengan bukti-bukti yang ada, pelaku bisa diproses sesuai hukum yang berlaku. Harapannya, ini bisa menjadi efek jera agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Aksi bagi bunga yang dilakukan Bonek dan Bonita akhirnya menjadi pengingat bahwa sepak bola tetap memiliki ruang besar untuk nilai kemanusiaan. Dari sebuah simpang jalan di pusat Kota Surabaya, pesan damai itu mengalir sederhana namun kuat di tengah rivalitas yang selama ini identik dengan panasnya emosi.
