Michael Carrick Adalah Titisan Sir Alex yang Selama Ini MU Cari? - Tirto
Michael Carrick Adalah Titisan Sir Alex yang Selama Ini MU Cari?
tirto.id - Andil besar Michael Carrick dalam perbaikan performa Manchester United sulit untuk ditampik. Setan Merah kini mengunci posisi 3 klasemen English Premier League (EPL) 2025/2026 dan meraih tiket ke Liga Champions musim depan. Apakah Carrick adalah titisan Sir Alex Ferguson yang selama ini MU cari?
Kelanjutan karier Carrick di Old Trafford pun jelas sudah. Jumat (22/5/2026) pagi, klub mengumumkan bahwa mantan gelandang MU yang sebelumnya adalah pelatih interim itu resmi dipermanenkan dengan durasi kontrak hingga 2028 mendatang.
"Manchester United dengan bangga mengumumkan bahwa Michael Carrick akan tetap menjabat sebagai pelatih kepala tim utama putra setelah menandatangani kontrak baru yang berlaku hingga tahun 2028," demikian yang tercantum di situs resmi klub.
Status sebagai pelatih tetap alias permanen memang pantas diberikan kepada Carrick. Bagaimana tidak? Sebelumnya, Bruno Fernandes dan kawan-kawan menorehkan kiprah memalukan dalam asuhan Ruben Amorim.
Di musim 2024/2025, MU finis di urutan 15, catatan terburuk dalam sejarah klub sejak era Premier League (1992/1993). The Red Devils juga gagal juara Europa League 2024/2025 usai tumbang dari Tottenham Hotspur di final.

Jelang musim 2025/2026, Amorim masih diberi kesempatan. Sejumlah pemain anyar bahkan didatangkan, dari Bryan Mbeumo, Benjamin Sesko, Matheus Cunha, Patrick Dorgu, hingga Senne Lamens. Harapannya, Manchester United menjadi lebih baik di musim yang baru.
Namun, performa MU justru memburuk jelang pergantian tahun. Situasi kian rumit lantaran timbul ketegangan antara Amorim dengan petinggi klub. Puncaknya, setelah imbang 1-1 kontra Leeds United, pelatih asal Portugal itu memuntahkan unek-unek di sesi konferensi pers usai pertandingan.
Manajemen United membalas koar-koar Amorim dengan pemecatan. Amorim resmi didepak terhitung tanggal 5 Januari 2026. Carrick pun dipanggil pulang ke Old Trafford untuk menjadi pelatih/manajer sementara alias caretaker.
Awal yang Menarik, Carrick!
Sebelum memulangkan Carrick, kendali kepelatihan tim utama Manchester United sempat dipasrahkan sekejap kepada Darren Fletcher, pelatih skuad U18. Sama seperti Carrick, Fletcher merupakan eks pemain MU hasil binaan Sir Alex Ferguson, sang legenda hidup itu.
Laga pertama Fletcher sebagai manajer interim adalah menghadapi Burnley –tim yang akhirnya terdegradasi– dengan hasil imbang 1-1 di EPL. Bahkan, di pertandingan berikutnya kontra Brighton & Hove Albion di putaran ketiga Piala FA 2025/2026, MU kalah dengan skor 1-2 dan tersingkir.
Setelah hasil yang sama sekali tidak memuaskan bersama Fletcher, Carrick pun resmi menukangi United sejak 13 Januari 2026, sebagai pelatih sementara. Mantan gelandang andalan The Red Devils ini memang sedang lowong usai meninggalkan Middlesbrough pada Juni 2025.

Berbeda dengan gaya Amorim, Carrick membebaskan para pemainnya berkreasi sesuai karakteristik masing-masing. Menurut data Whoscored, Manchester United di bawah asuhan Carrick hanya membuat rata-rata 50,6% ball possesion per laga.
Kendati begitu, MU begitu mematikan lewat serangan balik dengan kecepatan transisi. United melesakkan 27 gol dari 14 pertandingan atau rata-rata 1,9 gol per laga, meningkat dari 20 laga awal bersama Amorim. Total, Setan Merah mengoleksi 35 gol atau rerata 1,75 gol per pertandingan.
Kesan pertama Carrick amat memukau. Lawannya bukan kaleng-kaleng, di laga debutnya selaku peracik tim, pria 44 tahun ini harus menjamu “tetangga yang berisik” Manchester City pada 17 Januari 2026. Hasilnya, Manchester Merah menang 2-0 berkat gol Mbeumo dan Dorgu.
Carrick pun mulai menuai pujian, salah satunya dari Danny Murphy yang pernah menjadi rival kala masih aktif bermain dulu. Mantan pemain tengah Liverpool yang kini menjadi pundit ini menilai, MU ala Carrick menunjukkan permainan yang berbeda dari era Amorim.
“Kita melihat pemain yang sama di bawah Ruben Amorim dengan Michael Carrick, tetapi rasanya kita sedang melihat tim yang berbeda. Tentu ada unsur formasi dan komunikasi yang baik,” tulis Murphy dalam ulasannya di BBC.
Sejujurnya, Carrick memang layak diapresiasi. MU dalam besutan Carrick sanggup melalui 6 laga awal dengan kemenangan beruntun. Tak hanya City, Arsenal yang merupakan calon terkuat juara EPL pun mampu dicabik oleh pasukan Carrick dengan skor 2-3 di Emirates.
Orang-orang tentunya secara alami akan membandingkan Carrick dengan Amorim. Dengan komposisi tim yang relatif sama, apa yang dilakukan Carrick sehingga skuadnya bisa tampil sangat berbeda dibandingkan di tangan pelatih sebelumnya?
Dalam pengamatan Murphy, para pemain tampaknya lebih bahagia dilatih oleh Carrick yang notabene adalah wajah lama di klub itu. Sebagai legenda Setan Merah dan orang asli Inggris, Carrick memiliki kedekatan yang lebih emosional.
Pendekatan personal dan piawai memotivasi menjadi keunggulan utama Carrick. Belum ada lagi cerita soal drama yang pernah terjadi di ruang ganti MU semasa Amorim, sebutlah yang sempat melibatkan Marcus Rashford, Jadon Sancho, Alejandro Garnacho, Antony, Rasmus Højlund, hingga Kobbie Mainoo.

Tentunya itu bukan klaim semata atau berlebihan, banyak pemain MU yang nyaman dengan sosok dan metode Carrick. Bahkan, para penggawa United amat setuju jika Carrick dipermanenkan sebagai manajer sekaligus pelatih tetap.
“Tentu saja, menurut saya, Carrick pantas mendapatkan kesempatan sebagai manajer permanen,” ungkap penyerang MU asal Brasil, Matheus Cunha, dalam wawancara yang dikutip The Athletic.
“Dia sudah menunjukkan kualitas yang sangat bagus untuk menjadi manajer Manchester United,” timpal Casemiro yang juga berasal dari Brasil.
Kobbie Mainoo pun demikian. Gelandang muda asli didikan MU yang sempat dipinggirkan semasa kepelatihan Amorim ini sangat mendukung keberlanjutan karier Carrick di Old Trafford.
"Dia memainkan peran besar dalam hal ini, kepercayaan dia berikan kepada semua pemain. Anda ingin mengikutinya, berjuang untuknya, dan berkorban untuknya di lapangan,” tandas Mainoo dilansir Goal.
Antara Kutukan atau Penerus Sir Alex yang Dirindukan
Michael Carrick jelas bukan orang asing di Old Trafford, baik sebagai pemain sejak 2006 hingga 2018, maupun di jajaran kursi kepelatihan pada era-era selanjutnya.
Waktu itu, Carrick adalah sosok pemain tengah yang memang sangat diinginkan Sir Alex Ferguson (SAF). SAF turun langsung mengurusi proses negosiasi Carrick, bahkan berdebat sengit dengan Chairman Tottenham Hotspur, Daniel Levy, yang memang terkenal pelik dan keras kepala.
Bukan tanpa alasan Ferguson amat meminati Carrick. Ia harus segera mendapatkan gelandang tangguh pengganti Roy Keane yang hengkang pada November 2005. SAF menilai, orang yang layak memakai jersey nomor 16 penerus sang kapten adalah Michael Carrick.
Naluri Sir Alex terbukti betul. Selama 12 musim berseragam MU, Carrick tampil dalam 464 laga di ajang resmi, membukukan 24 gol dan 35 assist. Ia turut memenangkan berbagai trofi bergengsi, termasuk 5 gelar Premier League, 1 Liga Champions, 1 Liga Eropa, 1 Piala FA, dan 3 Piala Liga.
Usai memutuskan gantung sepatu pada Mei 2018, Carrick menerima tawaran untuk bergabung dengan staf pelatih skuad utama Manchester United. Ia mendampingi Jose Mourinho hingga pelatih berjuluk The Special One itu dipecat pada akhir 2018.
Ole Gunnar Solskjaer datang sebagai manajer MU berikutnya pada Desember 2018. Carrick masih dipertahankan dan menjadi tangan kanan mantan rekan setimnya itu. Bahkan, setelah Ole didepak pada 21 November 2021, Carrick ditunjuk sebagai pelatih interim.
Di periode pertamanya sebagai caretaker, Carrick menunjukkan performa impresif. United tak terkalahkan dalam 3 laga dengan menang 2-0 atas Villarreal di Liga Champions, menahan Chelsea 1-1, serta membekuk Arsenal 3-2 di Premier League.
Namun, pemecatan Ole masih membayangi Carrick dan ia merasa resah. Maka, setelah pertandingan kontra Arsenal pada 2 Desember 2021, Carrick memilih mundur dan meninggalkan Manchester United.
Kini, Carrick telah kembali, bahkan sudah resmi menjadi manajer tetap skuad Iblis Merah untuk setidaknya dua tahun ke depan. Apakah Carrick memang titisan sejati Sir Alex Ferguson?
Jika berkaca pada rekam jejak para mantan pemain legendaris yang beralih menjadi juru taktik MU setelah era Sir Alex Ferguson, kutukan kegagalan atau masa jabatan yang seumur jagung selalu membayangi.
Ryan Giggs pada 2014, misalnya, hanya sempat memimpin dalam 4 laga sebagai caretaker (2 menang, 1 imbang, dan 1 kalah) lantas kembali duduk di staf pelatih seiring datangnya Louis van Gaal.
Satu dekade berselang, Ruud van Nistelrooy juga sempat menjadi pelatih interim MU meskipun sangat singkat. Eks bomber Setan Merah itu digantikan Amorim kendati cukup meyakinkan dalam 4 pertandingan nir kekalahan (3 menang dan 1 imbang).
Ole Gunnar Solskjaer sempat membawa euforia besar di awal masanya selaku caretaker (2018-2019) dengan memenangkan 14 dari 19 laga. Namun, usai diangkat sebagai pelatih tetap, The Baby Face justru dianggap gagal dan akhirnya dilengserkan setelah performa tim merosot tajam.
Lantas, bagaimana dengan Carrick usai dipermanenkan sebagai pelatih tetap MU?
Data Transfermarkt menunjukkan, poin per pertandingan yang dikumpulkan Carrick selama menjabat sebagai pelatih interim MU sejak awal 2026 adalah yang terbaik jika dibandingkan dengan seluruh juru taktik United setelah Sir Alex Ferguson pensiun.
Carrick memperlihatkan kematangan taktis yang jauh lebih stabil dan klinis sejak mengambil-alih tim. Selama menangani MU, ia mencatatkan persentase kemenangan mencapai 66,7% di Premier League (12 kali menang dari 18 pertandingan liga).
Angka ini bahkan sedikit melampaui rekor domestik Sir Alex yang sebesar 65,2%. Secara keseluruhan di semua ajang, Carrick mengukir 13 kemenangan, 4 imbang, dan hanya 2 kali kalah dari 19 laga, sekaligus membawa MU bangkit hingga ke peringkat 3 guna mengamankan tiket ke Liga Champions musim depan.
Ketenangan dan aura kepemimpinan Carrick yang no no drama serta efektif membuatnya kini dipandang sebagai sosok paling mendekati Sir Alex Ferguson, jauh melewati para pendahulunya yang bernasib tragis di kursi panas Old Trafford.
Matheus Cunha menyebut apa yang dilakukan Carrick barangkali mirip dengan yang pelatih legendaris itu lakukan. “Saya pikir ia memiliki magis seperti zaman Ferguson,” sebutnya, dikutip dari ESPN.
Teddy Sheringham, mantan striker MU yang pernah dibesut langsung oleh Sir Alex, turut berkomentar, "Saya rasa Michael (Carrick) masuk ke sana, merangkul para pemain, memberi dorongan, dan memberitahu mereka apa yang diharapkan oleh suporter Manchester United.”
“Mengerti betapa beruntungnya bermain untuk Manchester United adalah hal yang selalu ditekankan oleh Sir Alex setiap kali kami mengalami performa buruk,” imbuh sosok yang memperkuat United pada 1997-2001 ini kepada Sportbible.

Bahkan, Sir Alex pernah menegaskan bahwa Carrick adalah sosok yang mengandalkan "otak kepelatihan" di atas lapangan. Hal tersebut SAF ungkapkan setahun setelah pensiun pada 2014 atau ketika Carrick masih bermain.
"Saya rasa Michael (Carrick) adalah pemain Inggris terbaik saat ini. Saya rasa ia pemain Inggris terbaik. Ia adalah poros utamanya,” ucap Sir Alex Ferguson kala itu.
Carrick sejatinya sudah punya segalanya sebagai nahkoda Manchester United yang selama ini dicari: bakat, kemampuan, pengalaman, DNA klub, memori manis, hasil impresif, metode manjur, kedekatan dengan tim, hingga pengakuan dan diterima fans.
Musim depan menjadi ujian yang sesungguhnya bagi Carrick, apakah ia memang merupakan penerus sejati Sir Alex yang selama ini dirindukan, atau justru ia akan menjadi pelatih MU kesekian yang melanjutkan ironi kutukan?
tirto.id - Horizon
Penulis: Permadi Suntama
Editor: Iswara N Raditya