0
News
    Home Berita Bulu Tangkis Bulu Tangkis indonesia Featured Spesial Thomas Cup Thomas-Uber Cup

    IMORI Soroti PBSI Usai Gagal di Piala Thomas 2026 - Go News

    2 min read

     

    IMORI Soroti PBSI Usai Gagal di Piala Thomas 2026



    Kepala Bidang Pengembangan Prestasi IMORI, Rezal Wijaya

    Jakarta – Seperti lonceng peringatan yang berdentang keras, kegagalan tim bulu tangkis Indonesia di Piala Thomas 2026 memantik kritik tajam dari kalangan akademisi olahraga. Ikatan Mahasiswa Olahraga Indonesia (IMORI) menilai hasil tersebut bukan sekadar kekalahan, melainkan cermin persoalan mendasar dalam sistem pembinaan nasional.

    Kekalahan Indonesia hingga tersingkir di fase grup menjadi catatan kelam, mengingat tradisi panjang prestasi di ajang beregu putra tersebut. Bahkan, hasil buruk saat menghadapi Prancis disebut sebagai indikator menurunnya daya saing atlet di level internasional. IMORI melihat kondisi ini sebagai alarm serius bagi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia untuk segera melakukan pembenahan menyeluruh.

    “Sebagai mahasiswa olahraga, kami melihat prestasi tidak bisa lahir dari proses yang bersifat instan atau sekadar rutinitas. Hasil di Piala Thomas 2026 adalah rapor merah yang menunjukkan bahwa inovasi dan manajemen prestasi kita sedang tertinggal jauh dari negara lain,” ujar Kepala Bidang Pengembangan Prestasi IMORI, Rezal Wijaya dalam keterangannya, Kamis (30/4/2026).

    Menurut Rezal, evaluasi tidak cukup dilakukan di permukaan, melainkan harus menyentuh aspek teknis hingga tata kelola organisasi. Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dalam pembinaan atlet, termasuk pemanfaatan sport science untuk meningkatkan performa fisik, mental, dan strategi bertanding.

    “Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bukti nyata kepedulian karyawan dan perusahaan terhadap keselamatan nyawa sesama, mengingat kebutuhan darah di rumah sakit terus meningkat,” katanya.

    Ia juga menyoroti pentingnya transparansi dalam proses rekrutmen atlet serta pembinaan jangka panjang yang berkelanjutan. Tanpa sistem yang jelas dan akuntabel, menurutnya, sulit bagi Indonesia untuk bersaing dengan negara lain yang telah lebih dahulu mengintegrasikan teknologi dan riset dalam olahraga.

    Desakan IMORI muncul di tengah derasnya kritik publik terhadap kepemimpinan federasi bulu tangkis nasional. Untuk pertama kalinya sejak 1958, Indonesia gagal melangkah dari fase grup di ajang Piala Thomas, sebuah capaian yang sebelumnya hampir tak pernah terbayangkan.

    IMORI berharap kegagalan ini dapat menjadi momentum refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan olahraga nasional. Perbaikan sistem, peningkatan kualitas pelatih, serta penguatan manajemen dinilai menjadi langkah krusial untuk mengembalikan kejayaan bulu tangkis Indonesia di panggung dunia.

    Dengan tekanan publik yang semakin besar, masa depan prestasi bulu tangkis Indonesia kini bergantung pada keberanian melakukan perubahan. Evaluasi menyeluruh yang transparan diyakini menjadi kunci agar sejarah kelam ini tidak kembali terulang di masa mendatang.

    Komentar
    Additional JS