Hak Siar Piala Dunia 2026 di India dan China Buntu, Jutaan Penggemar Terancam Gagal Menonton - ACEHGROUND
Hak Siar Piala Dunia 2026 di India dan China Buntu, Jutaan Penggemar Terancam Gagal Menonton
ACEHGROUND.COM – Kebuntuan negosiasi hak siar Piala Dunia 2026 di India dan China memicu kekhawatiran global karena jutaan pasang mata di dua negara dengan populasi terbesar tersebut terancam tidak bisa menyaksikan turnamen secara resmi. Hingga lima pekan menjelang sepak mula pada 11 Juni 2026, kesepakatan komersial di dua pasar raksasa Asia ini belum juga menemui titik terang, meski FIFA telah mengamankan kontrak di lebih dari 175 wilayah lainnya.
Di India, proses tawar-menawar antara FIFA dan konsorsium media Reliance-Disney dilaporkan mengalami stagnasi. Penawaran senilai 20 juta USD dari pihak penyiar dianggap terlalu jauh dari angka yang dipatok federasi sepak bola dunia tersebut. AcehGround mencatat bahwa FIFA semula mengharapkan paket senilai 100 juta USD untuk hak siar edisi 2026 dan 2030, namun rendahnya minat pasar domestik memaksa angka tersebut terus dinegosiasikan.
Kendala Ekonomi dan Selisih Harga di India
Rendahnya tawaran dari penyiar India bukan tanpa alasan. Dominasi olahraga kriket membuat sepak bola tetap berada di ceruk pasar yang terbatas, ditambah lagi dengan tantangan perbedaan zona waktu yang membuat mayoritas laga di Amerika Utara berlangsung pada tengah malam waktu setempat. Kondisi ekonomi dan penurunan belanja iklan turut memperumit situasi.
“Sepak bola adalah segmen khusus di India. Sony juga memutuskan untuk tidak membeli hak siar dari FIFA karena secara ekonomi tidak masuk akal bagi grup,” ungkap seorang sumber industri yang memahami jalannya pembicaraan tersebut.
Pihak FIFA sendiri memilih untuk bersikap tertutup mengenai detail proses yang sedang berjalan. Dalam pernyataan resminya kepada Reuters, FIFA menegaskan pentingnya menjaga kerahasiaan demi kelancaran proses bisnis. “Diskusi di China dan India mengenai penjualan hak media untuk FIFA World Cup 2026 sedang berlangsung dan harus tetap rahasia pada tahap ini,” tulis pernyataan tersebut.
Ketidakpastian di Pasar Digital China
Situasi serupa terjadi di China, negara yang pada edisi sebelumnya menyumbang hampir 50 persen dari total jam tontonan digital global. Meskipun basis penggemarnya sangat masif, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai pemegang hak siar, sebuah anomali jika dibandingkan dengan tradisi CCTV yang biasanya sudah mengamankan kontrak jauh-jauh hari.
Seorang sumber internal FIFA menyebutkan bahwa organisasi tersebut tetap pada pendiriannya untuk mendapatkan nilai kontrak yang kompetitif. “FIFA mencari jumlah yang serupa dengan edisi turnamen sebelumnya,” tuturnya. Keterlambatan ini berdampak langsung pada persiapan infrastruktur penyiaran dan skema penjualan slot iklan bagi korporasi yang ingin terlibat.
Meski waktu kian mepet, beberapa pihak optimis solusi akan ditemukan sebelum turnamen dimulai. Rohit Potphode memberikan perumpamaan mengenai situasi pelik ini. “Tidak banyak waktu tersisa, tapi saya tidak akan menyebutnya jalan buntu. Ini lebih seperti kita berada di akhir permainan catur dengan beberapa langkah tersisa,” ujarnya.
Krisis ini membawa implikasi serius bagi kepentingan publik, terutama bagi jutaan penggemar sepak bola di Asia yang terancam kehilangan akses legal untuk menyaksikan pesta sepak bola terbesar di dunia. Jika kesepakatan gagal tercapai, FIFA berisiko kehilangan jangkauan penonton di wilayah dengan populasi terbanyak, yang pada akhirnya dapat mendistorsi nilai komersial turnamen di masa depan.
