Dinkes Kota Bandung Siagakan 12 Ambulans dan 50 Tenaga Medis Antisipasi Kebutuhan Kesehatan, Saat Konvoi Persib - Tribrata Nees
Dinkes Kota Bandung Siagakan 12 Ambulans dan 50 Tenaga Medis Antisipasi Kebutuhan Kesehatan, Saat Konvoi Persib

Menjelang laga penentuan yang diprediksi akan mengukuhkan Persib Bandung sebagai juara kompetisi Super League musim 2025/2026 sekaligus meraih sejarah juara tiga kali beruntun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung telah menyiapkan langkah strategis dan antisipatif yang matang. Sebanyak 12 unit ambulans lengkap dengan perlengkapan medis dan didukung sekitar 50 tenaga kesehatan profesional akan diterjunkan ke lapangan guna mengamankan dan melayani kebutuhan medis masyarakat saat berlangsungnya konvoi besar-besaran perayaan kemenangan tim kebanggaan warga Jawa Barat tersebut.
Persib Bandung dipastikan akan mengunci gelar juara jika mampu menaklukkan Persijap Jepara pada pertandingan yang digelar Sabtu, 23 Mei 2026 mendatang di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Kepastian ini diprediksi akan memicu euforia luar biasa dari ribuan hingga puluhan ribu Bobotoh yang akan memadati jalanan kota Bandung untuk merayakan keberhasilan tersebut. Menyadari besarnya potensi kerumunan massa, risiko kecelakaan, maupun keluhan kesehatan yang mungkin muncul, Dinkes Kota Bandung bergerak cepat menyiapkan jaring pengaman kesehatan di berbagai titik.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Sony Adam, memaparkan rincian kesiapan pihaknya saat memberikan keterangan pers pada Kamis (21/5/2026). Ia menegaskan bahwa seluruh ambulans yang disiapkan dan akan diterjunkan ke lokasi telah dilengkapi secara lengkap dan memadai dengan berbagai peralatan pertolongan pertama serta kebutuhan medis darurat. Hal ini dilakukan untuk memastikan tim medis mampu merespons dan menangani berbagai kemungkinan kondisi kesehatan yang terjadi di lapangan dengan cepat dan tepat.
“Setiap ambulans yang kami siapkan sudah dilengkapi kelengkapan pertolongan pertamanya secara standar dan lengkap. Mulai dari tabung oksigen, alat pengukur tekanan darah atau tensi meter, stetoskop, hingga berbagai jenis obat-obatan darurat yang dibutuhkan untuk penanganan awal pasien. Semua kami persiapkan agar tidak ada kendala saat harus bertindak di lokasi kejadian,” tegas Sony Adam.
Penyebaran posisi kendaraan pendukung kesehatan ini pun tidak dilakukan secara acak, melainkan telah melalui pemetaan matang. Dinkes Kota Bandung telah menentukan sejumlah titik strategis yang diprediksi akan menjadi pusat keramaian utama, jalur lintas konvoi, maupun titik kumpul massa. Di titik-titik inilah ambulans akan bersiaga siang dan malam selama masa perayaan berlangsung. Selain mengandalkan kendaraan operasional, jaring pelayanan kesehatan juga diperluas hingga ke fasilitas kesehatan tingkat pertama, yaitu Puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah kota.
“Beberapa unit ambulans sudah kami plot atau tempatkan di titik-titik tertentu yang dianggap rawan atau padat aktivitas. Di sisi lain, seluruh Puskesmas di wilayah Kota Bandung juga kami siagakan dan kami aktifkan status siaga darurnya. Tujuannya, jika ada warga yang mengalami kondisi medis cukup berat atau membutuhkan penanganan lanjutan yang lebih mendalam, mereka bisa langsung dibawa ke Puskesmas terdekat untuk ditangani lebih intensif. Namun prinsipnya, penanganan pertolongan pertama tetap harus dilakukan di lokasi kejadian sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan,” jelasnya.
Salah satu inovasi dan langkah cerdas yang dilakukan Dinkes kali ini adalah pengerahan petugas kesehatan bergerak atau tim medis keliling. Langkah ini diambil mengingat karakteristik konvoi perayaan kemenangan yang biasanya memadati jalanan hingga sulit dilewati kendaraan, sehingga keberadaan ambulans saja dinilai belum cukup menjangkau ke tengah massa. Oleh karena itu, puluhan tenaga kesehatan akan dibagi ke dalam tim bergerak yang akan menyusuri jalur konvoi untuk memberikan pertolongan secara langsung.
“Kami sadar betul bahwa jika hanya mengandalkan mobil ambulans saja, kadang kendaraan tersebut tidak bisa masuk atau menembus ke tengah kerumunan massa yang sangat padat. Maka dari itu, kami juga menyiapkan petugas kesehatan bergerak atau tim medis keliling. Mereka akan turun langsung bergerak di antara masyarakat dan peserta konvoi, sehingga jika ada yang butuh bantuan medis, pertolongan bisa segera didapatkan tanpa harus menunggu kendaraan masuk,” ungkap Sony.
Lebih lanjut, Sony Adam menguraikan jenis potensi gangguan kesehatan yang umumnya terjadi saat perayaan besar seperti ini. Berdasarkan pengalaman dan data kejadian sebelumnya, masalah kesehatan yang paling banyak muncul disebabkan oleh faktor kelelahan fisik peserta akibat berdiri terlalu lama, beraktivitas berlebihan, atau kurang istirahat. Selain itu, faktor kelalaian dan kurangnya kehati-hatian saat berkendara maupun berjalan di tengah keramaian juga menjadi penyebab utama terjadinya insiden, mulai dari luka ringan hingga kecelakaan lalu lintas.
“Kendala utama yang biasa kami temui biasanya karena peserta kurang hati-hati atau lengah. Kecelakaan kecil maupun besar pasti ada saja kemungkinannya. Namun selama mobilitas dan aktivitas masyarakat tidak dilakukan secara berlebihan, tidak ugal-ugalan, dan tetap menjaga diri, insyaallah aman dan terkendali. Keluhan kesehatan yang paling umum biasanya adalah kelelahan, dehidrasi, atau pusing karena kurang istirahat dan kepanasan,” tandasnya.
Di akhir pernyataannya, Sony Adam berharap kesiapan fasilitas dan personel yang telah disiapkan ini tidak perlu digunakan, atau dengan kata lain perayaan berjalan aman dan lancar tanpa insiden medis berarti. Meski demikian, kesiapan tetap dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab pelayanan publik. Ia juga kembali mengimbau seluruh masyarakat dan Bobotoh yang akan merayakan kemenangan agar tetap mengutamakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain, tidak melakukan aksi nekat, serta menjaga ketertiban demi kenangan indah sejarah juara Persib Bandung.