0
News
    Home Berita EPL Featured Leicester City Liga Inggris Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial

    Dulu Juara Liga Primer, Leicester Kini Degradasi ke Kasta Ketiga - Media Indonesia

    2 min read

     

    Dulu Juara Liga Primer, Leicester Kini Degradasi ke Kasta Ketiga

    Gary Rowett.(Leicester City)

    NASIB pahit menimpa Leicester City. Klub yang pernah mengguncang dengan gelar Liga Primer edisi 2016 itu kini harus terdegradasi ke kasta ketiga sepak bola Inggris usai bermain imbang 2-2 melawan Hull City pada lanjutan Championship di Stadion King Power, Rabu (22/4) dini hari.

    Hasil tersebut memastikan langkah Leicester terhenti. Tambahan satu poin tak cukup menjaga asa bertahan, membuat mereka resmi turun ke League One. Terakhir kali mereka merasakan kompetisi kasta ketiga ialah pada musim 2008/2009.

    Padahal, kemenangan menjadi harga mati bagi tim asuhan Gary Rowett untuk menjaga peluang lolos dari jerat degradasi. Namun, gol penyeimbang dari Oli McBurnie pada babak kedua memupus harapan tersebut.

    Dengan hanya dua laga tersisa, Leicester yang berada di posisi kedua dari bawah tertinggal tujuh poin dari zona aman dan sudah mustahil dikejar.

    "Kami harus belajar. Klub ini harus menerima bahwa ini bagian paling pahit dalam perjalanan tim sepak bola. Tidak lama berselang kami juara Liga Primer. Itu momen luar biasa. Tapi sekarang, kami juga harus jujur bahwa ini periode yang sangat mengecewakan," ujar Rowett.

    Degradasi ini menjadi yang ketiga dalam empat musim terakhir. Itu menjadi kemunduran drastis bagi klub yang pernah menorehkan dongeng manis menjuarai Liga Primer di bawah arahan Claudio Ranieri.

    Kala itu, Leicester diperkuat nama-nama seperti Jamie Vardy, Riyad Mahrez, dan N'Golo Kante yang membawa klub menjadi juara. Mereka bahkan sempat menembus perempat final Liga Champions dan mengangkat trofi Piala FA pada 2021.

    Namun, kejayaan itu kini tinggal kenangan. Dalam lima tahun terakhir, Leicester mengalami penurunan tajam akibat kombinasi masalah teknis dan nonteknis.

    Dari sisi manajemen, keputusan-keputusan yang kurang tepat mempercepat kemunduran. Pergantian pelatih yang tidak stabil mulai dari Ranieri hingga Brendan Rodgers gagal menjaga kesinambungan performa tim.

    Di luar lapangan, kondisi finansial klub juga memburuk. Pelanggaran aturan pengeluaran membuat Leicester harus menerima pengurangan enam poin musim ini.

    Kepergian Vardy pada akhir musim lalu turut memutus ikatan terakhir dengan generasi emas. Upaya membangun ulang skuad pun tak berjalan mulus.

    Pelatih sebelumnya, Marti Cifuentes, gagal membentuk tim yang solid sebelum akhirnya dipecat. Rowett yang datang pada Februari pun tak mampu mengubah arah. Dari 12 pertandingan, dia hanya meraih satu kemenangan. (AFP/I-2)

    Komentar
    Additional JS