100 Tahun Sepak Bola Malaysia Belum ke Piala Dunia, Pengamat Lokal: Jiran Bisa Lolos 20 Tahun Lagi! - Superball
SUPERBALL.LID - Usai diterjang skandal pemalsuan dokumen naturalisasi pemain keturunan, Malaysia diklaim bisa lolos ke Piala Dunia dalam kurun 20 tahun lagi.
Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) terus mematangkan visi besar untuk membawa skuad Harimau Malaya menembus panggung Piala Dunia.
Namun, ambisi tersebut tidak akan terwujud tanpa fondasi yang kokoh di level akar rumput.
Pakar sepak bola ternama Malaysia, Dr. Zulakbal Abdul Karim, menegaskan bahwa perbaikan jalur pengembangan pemain muda (youth pathway) adalah harga mati jika Malaysia ingin bersaing di level global dalam dua dekade ke depan.
Dalam wawancara terbaru yang dilansir dari New Straits Times, Dr. Zulakbal memaparkan analisis mendalam mengenai peta jalan sepak bola Malaysia menuju siklus 20 tahun mendatang.
Menurutnya, talenta saja tidak cukup tanpa sistem yang terintegrasi dari usia dini hingga profesional.
Visi 20 Tahun: Bukan Sekadar Angka
Dr. Zulakbal menekankan bahwa target lolos ke Piala Dunia dalam rentang waktu 20 tahun adalah target yang realistis, namun sangat menantang.
Ia menyoroti pentingnya konsistensi dalam pembinaan. Menurutnya, pemain yang akan membawa Malaysia ke Piala Dunia di masa depan adalah anak-anak yang saat ini baru mulai menyentuh bola di akademi.
"Kita perlu menganalisis mengapa kita belum lolos ke Piala Dunia. Ini sudah 100 tahun sepak bola Malaysia."
Baca Juga: ASEAN Futsal Championship 2026 - Indonesia Pulangkan Malaysia, Harimau Malaya Menangis!
"Kita harus memiliki jalur yang jelas bagi para pemain muda untuk berkembang," ujar Dr. Zulakbal.
Tanpa sistem yang kompetitif dan terstruktur, bakat-bakat ini akan layu sebelum mencapai usia emas," imbuhnya.
Ia menambahkan bahwa Malaysia perlu belajar dari negara-negara yang telah sukses mentransformasi sepak bola mereka melalui investasi jangka panjang pada sektor pemain muda.
Kesenjangan antara Akademi dan Tim Senior
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah transisi pemain dari level remaja ke tim senior.
Seringkali, pemain berbakat di Malaysia kehilangan arah karena kurangnya menit bermain di kompetisi profesional yang kompetitif.
Dr. Zulakbal menyarankan agar klub-klub di Liga Malaysia lebih berani memberikan kepercayaan kepada talenta lokal daripada terus bergantung pada pemain asing atau naturalisasi instan.
Jalur pengembangan yang esensial ini mencakup kurikulum kepelatihan yang seragam, kompetisi kelompok umur yang rutin, serta pemanduan bakat yang menjangkau seluruh pelosok negeri.
"Sepak bola modern menuntut atlet yang tidak hanya teknis, tetapi juga memiliki inteligensi permainan yang diasah sejak dini," tambahnya.
Baca Juga: Hasil ASEAN Futsal Championship 2026 - Gilas Malaysia, Timnas Futsal Indonesia Lolos ke Semifinal
Tantangan di Kawasan ASEAN
Ambisi Malaysia ini tentu tidak akan mudah, mengingat para pesaing di Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam juga terus berbenah.
Timnas Indonesia, misalnya, mulai menunjukkan hasil nyata melalui integrasi pemain keturunan dan pembinaan sistematis yang mampu membawa skuad Garuda melaju jauh di kualifikasi Piala Dunia 2026.
Persaingan ketat di kawasan ASEAN ini seharusnya menjadi cambuk bagi otoritas sepak bola Malaysia untuk tidak sekadar meluncurkan program di atas kertas, tetapi mengeksekusinya secara nyata di lapangan.
Dr. Zulakbal menutup analisisnya dengan peringatan bahwa jika Malaysia gagal memperbaiki sistem pembinaan pemain muda saat ini, maka mimpi melihat Harimau Malaya di Piala Dunia 2046 hanya akan tetap menjadi wacana tahunan.
Investasi pada kepelatihan dan infrastruktur akademi adalah investasi paling berharga yang bisa dilakukan Malaysia saat ini untuk memetik hasil di masa depan.
"Jika semuanya dilakukan dengan benar, kita bisa lolos ke Piala Dunia dalam 20 tahun lagi. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan," pungkasnya.