Pengacara Malaysia Sebut Harimau Malaya Beruntung Terhindar dari Hukuman Lebih Berat - Superball
SUPERBALL.ID - Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) dianggap beruntung ketika Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) tidak menjatuhkan hukuman yang lebih berat untuk tim nasionalnya.
AFC telah menjatuhkan hukuman untuk Timnas Malaysia menyusul kasus pemalsuan dokumen yang melibatkan tujuh pemain naturalisasi.
Pertemuan yang dipimpin oleh Ketua Komite Disiplin dan Etika AFC, Jahangir Baglari, menemukan bahwa FAM melanggar Pasal 56 Kode Disiplin dan Etika AFC.
AFC memutuskan untuk membatalkan kemenangan Malaysia atas Nepal (2-0) dan Vietnam (4-0) di Kualifikasi Piala Asia 2027.
Baca Juga: Gagal ke Piala Asia Pakai Skuad Haram, Malaysia Klaim Sedang Berjuang Demi Martabat
Skuad Harimau Malaya dinyatakan kalah WO (walkover) dengan skor 0-3 karena menurunkan pemain yang tidak memenuhi syarat.
Tim asuhan Peter Cklamovski itu harus rela ke posisi kedua klasemen Grup F usai menerima pengurangan enam poin.
Dengan satu laga sisa, Malaysia dipastikan gagal lolos ke Piala Asia 2027 karena tertinggal enam poin dari Vietnam di puncak.
Oleh karena itu, pertandingan terakhir mereka melawan Vietnam pada 31 Maret mendatang hanya sebatas laga formalitas.
Kendati demikian, Malaysia dianggap beruntung karena AFC tidak menjatuhkan hukuman yang lebih berat kepada mereka.
Pandangan tersebut disampaikan oleh pengacara bidang olahraga dan komersial asal Malaysia, Nik Erman Nik Roseli.
Nik Erman mengatakan Malaysia seharusnya merasa lega karena hukuman yang dijatuhkan AFC mengacu pada Pasal 56 tentang ketidaklayakan pemain.
Menurutnya, Pasal 56 jauh lebih ringan daripada Pasal 61 yang secara khusus merujuk pada tindak pidana pemalsuan dokumen dan informasi.
Pasalnya, hukuman Pasal 56 memungkinkan Malaysia tetap berkompetisi karena pelanggaran ditemukan di tengah periode kompetisi.
Mengomentari lebih lanjut dampak jika Pasal 61 digunakan, Nik Erman mengungkapkan bahwa Malaysia kemungkinan besar akan langsung didiskualifikasi dari kompetisi yang ada.
Bahkan, ia mengatakan Harimau Malaya juga berisiko tinggi tidak diizinkan untuk berkompetisi di turnamen mana pun di masa mendatang.
Baca Juga: Pelatih Timnas Malaysia Pasrah dengan Masa Depannya meski Ambisi ke Piala Dunia Masih Membara
"Hukuman AFC terhadap FAM sesuai dengan Pasal 56 yang menyatakan bahwa jika pelanggaran ditemukan setelah berakhirnya periode kompetisi, larangan untuk berpartisipasi dalam kompetisi mendatang dapat dikenakan."
"Jadi, hukuman sesuai Pasal 56 ini memungkinkan Harimau Malaya untuk terus berkompetisi meskipun enam poin telah dikurangi."
"Jika Pasal 61 diterapkan, Harimau Malaya bisa tersingkir dari kompetisi saat ini dan mungkin tidak diizinkan untuk berkompetisi di masa mendatang."
"Jadi kita dapat berasumsi bahwa FAM diselamatkan karena AFC memilih Pasal 56," kata Nik Erman, dikutip SuperBall.id dari Bharian.com.my.
Lebih lanjut, Nik Erman tidak menampik kemungkinan AFC memilih untuk menggunakan Pasal 56 karena FIFA juga pernah menjatuhkan hukuman untuk pemalsuan dokumen dan informasi sebelumnya.
"Mengapa pasal itu dipilih daripada Pasal 61 adalah sesuatu yang mungkin dapat dijelaskan oleh AFC sendiri."
"Jadi, Anda tidak bisa dihukum dua kali untuk pelanggaran yang sama."
"Mungkin juga karena Pasal 56 lebih mudah dibuktikan daripada Pasal 61," katanya.
Nik Erman menginformasikan bahwa denda berdasarkan Pasal 61 juga lebih tinggi, yaitu setidaknya RM79.130, berbeda dengan denda berdasarkan Pasal 56 yang nilainya setidaknya RM3.956.
"Perbedaan signifikan juga terlihat pada besarnya denda yang dikenakan. Pasal 61 menetapkan hukuman yang lebih tinggi dengan denda minimum mencapai setidaknya RM79.130."
"Sementara itu, untuk Pasal 56, total dendanya hanya sekitar RM3.956," jelasnya.