LEGENDA PIALA DUNIA - si Bandel Romario, sang Penghapus Dahaga Gelar Brasil yang Berakhir Tragis - Bolasport
BOLASPORT.COM - Legenda Timnas Brasil, Romario, memiliki perjalanan yang sangat unik sekaligus kontroversial bersama Tim Samba di panggung Piala Dunia.
Romario melakoni debutnya di Piala Dunia pada edisi 1990.
Namun, ia datang ke Italia dalam kondisi tidak 100 persen akibat cedera patah tulang yang dialaminya beberapa bulan sebelum turnamen.
Lantaran fisiknya belum bugar sepenuhnya, Romario menghabiskan sebagian besar kejuaraan di bangku cadangan.
Pemain bernama lengkap Romario de Souza Faria itu tercatat hanya bermain selama 66 menit, tepatnya pada laga terakhir fase grup melawan Skotlandia.
Selecao sendiri akhirnya tersingkir di babak 16 besar setelah kalah 0-1 dari rival abadi mereka, Argentina.
Kegagalan di tahun 1990 dibayar tuntas oleh Romario empat tahun kemudian.
Di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat, Romario datang dengan kondisi prima.
Kala itu publik Brasil menaruh harapan besar pada pria kelahiran 29 Januari 1966 ini untuk mengakhiri puasa gelar Piala Dunia selama 24 tahun.
Baca Juga: Peserta Piala Dunia 2026 - Brasil, Misi Tim Samba Pertegas Status sebagai Raja
Bersama Carlos Dunga dan Bebeto, Romario tampil spektakuler.
Legenda Barcelona itu mencetak 5 gol di momen-momen krusial.
Pada fase grup, ia mencetak gol ke gawang Rusia, Kamerun, dan Swedia.
Kemudian Romario mencetak gol pembuka saat melawan Belanda pada babak perempat final.
Setelahnya pada babak semifinal, Romario menjadi pahlawan lewat gol sundulannya ke gawang Swedia
Penampilan impresifnya ditutup dengan keberhasilan mengeksekusi penalti dalam drama adu tos-tosan melawan Italia di partai puncak yang membawa Brasil merengkuh trofi juara.
Berkat performa tersebut, Romario dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen, mengungguli nama besar seperti Hristo Stoichkov dan Roberto Baggio.
Keberhasilan ini sekaligus menjadi pembuktian kepada pelatih Brasil waktu itu, Carlos Alberto Parreira, yang sempat mencoretnya dari tim nasional sejak 1992 sebelum kembali memanggilnya pada laga terakhir kualifikasi Piala Dunia 1994.
Baca Juga: Donald Trump Bandingkan Messi dengan Dewa Sepak Bola Brasil, Dibalas pakai Senyuman Malu-malu
Ironisnya, setelah sukses besar di 1994, perjalanan Romario selanjutnya justru penuh lara.
Sosok berpostur 167 sentimeter itu absen di Piala Dunia 1998 karena cedera otot yang gagal pulih tepat waktu.
Dalam konferensi pers saat itu, Romario tak kuasa menahan tangis dan menyebut momen tersebut sebagai salah satu titik terendah dalam hidupnya.
Ambisi terakhir Romario muncul menjelang Piala Dunia 2002.
Meski sudah berusia 36 tahun, ia tampil tajam bersama Vasco da Gama dan sangat yakin akan dipanggil oleh pelatih Luiz Felipe Scolari.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Scolari mencoretnya karena masalah indisipliner.
Pemicunya adalah insiden terakhir di Copa America 2001.
Kala itu, Romario izin absen dengan alasan operasi mata, tetapi dirinya malah kedapatan bermain di laga persahabatan bersama Vasco da Gama di Meksiko dan pergi berlibur.
Piala Dunia yang digelar di Korea Selatan dan Jepang itu seharusnya menjadi panggung perpisahan manis baginya.
Namun, justru berakhir tanpa namanya di skuad.
Perjalanan pemain berjuluk Baixinho di Piala Dunia memang unik.
Berawal sebagai pahlawan bangsa, tetapi berakhir tragis akibat ulahnya sendiri.