Bantah Dalih Sekjen AFC Bedakan Kasus Timor Leste, Media Malaysia: Pelanggaran Tetap Pelanggaran - Superball
Bantah Dalih Sekjen AFC Bedakan Kasus Timor Leste, Media Malaysia: Pelanggaran Tetap Pelanggaran
SUPERBALL.ID - Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menjelaskan bahwa penangguhan yang dijatuhkan kepada Timor Leste tidak bisa dibandingkan dengan situasi Malaysia.
Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) dan tujuh pemain naturalisasi tim nasionalnya telah dinyatakan bersalah dalam kasus pemalsuan dokumen.
Kepastian itu didapat setelah Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) menolak banding FAM dan menguatkan sanksi FIFA.
FIFA dan AFC juga telah menjatuhkan hukuman kalah 0-3 kepada Timnas Malaysia dalam laga yang melibatkan tujuh pemain naturalisasi.
Baca Juga: Gerah Diminta Menghukum Malaysia, AFC: Kami Bukan Polisi!
Banyak pihak menilai Malaysia juga seharusnya dilarang berpartisipasi dalam turnamen mendatang seperti halnya Timnas Timor Leste.
AFC sebelumnya telah menskors Timor Leste dari partisipasi di Kualifikasi Piala Asia 2023 menyusul kasus yang sama.
Namun, pihak AFC menjelaskan penangguhan yang dijatuhkan kepada Timor Leste tidak bisa disamakan dengan Malaysia.
Sekretaris Jenderal AFC, Datuk Seri Windsor Paul John, mengatakan bahwa kasus yang melibatkan kedua negara berbeda.
Ia mengatakan pelanggaran yang dilakukan Timor Leste baru terungkap setelah turnamen berakhir, sehingga hukuman yang dijatuhkan berlaku untuk edisi turnamen berikutnya.
Sedangkan masalah pemalsuan dokumen yang melibatkan tujuh pemain dari skuad Harimau Malaya terjadi dalam konteks dan periode turnamen yang berbeda.
"Kasus Timor Leste terjadi setelah kompetisi berakhir. Ketika pelanggaran ditemukan, hukuman dijatuhkan untuk masa mendatang, itulah sebabnya mereka dilarang bermain di edisi Kualifikasi Piala Asia berikutnya."
"Situasi ini berbeda dengan kasus yang terjadi saat kompetisi sedang berlangsung."
"Oleh karena itu, kasus yang melibatkan Malaysia dan Timor Leste tidak dapat dibandingkan," kata Windsor pada Senin (16/3/2026).
Namun, dalih Windsor terkait waktu ketika membedakan kasus Timor Leste dan Malaysia dibantah oleh media Malaysia New Straits Times.
Dalam artikel di New Straits Times, jurnalis Ajitpal Singh menegaskan bahwa pelanggaran tetaplah pelanggaran, terlepas dari waktu terjadinya.
Ia menegaskan bahwa setiap pelanggaran yang telah dibuktikan oleh otoritas tertinggi harus membawa konsekuensi.
"Dalam sepak bola, pelanggaran tetaplah pelanggaran," tulis Ajitpal di New Straits Times.
"Tidak masalah apakah hal itu terungkap sebelum turnamen dimulai, di tengah kompetisi, atau lama setelah peluit akhir dibunyikan."
"Prinsip yang mendasari olahraga ini sederhana. Aturan dibuat untuk melindungi persaingan yang adil, dan pelanggaran harus membawa konsekuensi."
"Oleh karena itu, sanksi yang dijatuhkan FIFA terhadap FAM dan tujuh pemain naturalisasi tidak dapat dianggap hanya sebagai masalah prosedural semata," tambahnya.
Lebih lanjut, Ajitpal mengatakan fokus yang hanya tertuju pada waktu berisiko mengabaikan pertanyaan mendasar dari masalah.
"Para pejabat di dalam AFC telah membuat perbedaan antara kedua kasus tersebut, khususnya mengenai kapan pelanggaran ditemukan dan bagaimana peraturan kompetisi berlaku setelah turnamen berakhir."
"Interpretasi peraturan tersebut mungkin memiliki dasar dalam kerangka hukum sepak bola."
"Namun, berfokus semata-mata pada waktu yang tepat berisiko mengabaikan pertanyaan mendasar yang terus membayangi masalah ini."
"Bagaimana seharusnya sepak bola merespons ketika penggunaan dokumen palsu telah terbukti oleh otoritas pengatur olahraga tersebut?"
"Kredibilitas kompetisi internasional bergantung pada keyakinan bahwa aturan kelayakan ditegakkan secara konsisten."
"Ketika aturan-aturan tersebut dilanggar, respons yang diberikan diharapkan dapat memperkuat kepercayaan terhadap sistem, bukan malah menciptakan ketidakpastian baru," lanjutnya.