Turnamen BWF di India Turun Kasta setelah Berbagai Pengalaman Buruk, Kerugian bagi Pemain Sendiri - Bolasport
BOLASPORT.COM - Alokasin dan level turnamen BWF World Tour di India mengalami perubahan, ada yang dihapus dan ada yang diturunkan tarafnya.
Semula, India memiliki empat turnamen BWF yang konsisten digelar setiap tahunnya.
Keempat turnamen itu ialah India Open (Super 750), Syed Modi International (Super 300), serta dua turnamen Super 100, Guwahati Masters dan Odisha Masters.
Namun mulai tahun 2027 sampai 2030, India hanya memiliki dua turnamen yaitu India Open dan Syed Modi International.
Syed Modi pun diturunkan kastanya dari Super 300 menjadi Super 100.
Penurunan kasta turnamen ini bersamaan dengan pengalaman buruk sejumlah pemain non-India setiap bertanding di Syed Modi, Guwahati, dan Odisha.
Baca Juga: Alwi Farhan dan Ubed Diakui Media China, Indonesia Pantas Jadi Unggulan 2 Thomas Cup 2026
Burung yang berkeliaran di dalam GOR hingga mengeluarkan kotoran, debut, dan masalah polusi udara serta sanitasi yang buruk sempat diperbincangkan.
Penurunan kasta turnamen dan hanya satu kompetisi level Super 100 di India kini menghadirkan efek domino yang dapat merugikan pemain mereka sendiri.
Tanpa memiliki turnamen Super 300 dan minimnya turnamen Super 100 berarti membuat para pemain India sendiri sekarang harus berjuang untuk mendapatkan poin peringkat dengan melakukan perjalanan ke turnamen di luar negeri.
Artinya, pemain muda atau pemain yang berjuang mendapatkan poin ranking harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk sekadar mengikuti turnamen Super 300 di negara lain.
Keluhan dari pemain India sendiri, Chirag Shetty, sudah terdengar setelah dia ikut sedih dengan minimnya turnamn di negaranya.
"Akan ada jauh lebih sedikit turnamen untuk para pemain muda berbakat,” kata Chirag Shetty dikutip Bolasport dari Times of India.
"Sebelumnya, di bulan Desember, mereka biasanya mengikuti hampir empat turnamen di India."
"Rentang waktu itu sebenarnya membantu mereka menghemat banyak uang. Sekarang tidak mungkin bagi mereka untuk bermain karena dua turnamen telah dihapuskan," tambah ganda putra yang pernah nangkring di nomor satu dunia bersama Satwiksairaj Rankireddy.
Keluhan dari orang tua pemain juga sudah muncul, yaitu ayah dari tunggal putri muda India, Shreyanshi Valishetty, Ramakrishna.
"Dengan dihapuskannya dua turnamen tersebut, akan sangat sulit bagi para pemain untuk mendapatkan poin peringkat," keluh Ramakrishna.
"Pemain yang sedang naik daun membutuhkan poin-poin ini untuk bisa masuk ke turnamen."
"Mereka hanya akan mendapatkan sponsor jika berhasil masuk ke babak utama."
"Jika tidak, akan sulit untuk berpartisipasi dalam turnamen internasional," tambahnya.
Meski begitu, perwakilan dari pelatnas India, Sanjai Mishra mengelak dianggap tidak layak menggelar banyak turnamen BWF karena argumen tentang kebersihan dan layanan buruk.
"Kami ditawari Super-1000, tetapi karena turnamen itu akan berakhir dalam 11 hari dan menawarkan hadiah uang yang lebih besar, kami terpaksa menolaknya,” kata Mishra.
"Semua negara mendapatkan lebih sedikit turnamen. Bahkan China hanya mendapatkan tiga acara. Karena kita mendapatkan satu Super-100, kami pikir lebih baik
menyelenggarakannya di Lucknow karena Syed Modi adalah salah satu acara tertua kami," ucap Mishra.
"Kami menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia tahun ini dan akan memutuskan untuk mengajukan tawaran untuk Piala Sudirman tahun depan," tegasnya.
Baca Juga: Aib Besar Denmark setelah Terjungkal dari Takhta Eropa