Insiden Bastoni Vs Kalulu Bikin Juventus Terzalimi, tapi Bagaimana Kasus Iuliano-Ronaldo atau Pjanic-Raphinha? - Bolasport
Insiden Bastoni Vs Kalulu Bikin Juventus Terzalimi, tapi Bagaimana Kasus Iuliano-Ronaldo atau Pjanic-Raphinha?
BOLASPORT.COM - Jurnalis Italia, Paolo Ziliani, menghubungkan insiden Alessandro Bastoni vs Pierre Kalulu dengan sederet kontroversi lampau dalam duel Inter Milan versus Juventus.
Setelah aksinya dalam Derby d'Italia yang dimenangkan Inter Milan 3-2, Sabtu (14/2/2026), Alessandro Bastoni bak menjadi musuh nomor satu di Italia.
Ia menjadi bulan-bulanan pers, sejumlah pandit, maupun tokoh sepak bola Negeri Piza karena melakukan tindakan tak terpuji saat melawan Juventus.
Bastoni terbanting setelah terkena sentuhan ringan Pierre Kalulu yang menyebabkan bek Juve itu mendapat kartu kuning kedua.
Wasit Federico La Penna mengusir Kalulu. Protokol VAR tidak memungkinkan penggunaan untuk meninjau sanksi kartu kuning.
Dampaknya luar biasa. Bastoni diserang dari berbagai front. Banyak suara-suara yang menuntut dia dicoret dari timnas Italia.
Ketua Asosiasi Wasit Italia (AIA), Gianluca Rocchi, sampai minta maaf. La Penne terancam sanksi berat.
"Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya untuk insiden tersebut," ucap Rocchi seperti dikutip dari ANSA.
"Untuk keputusan La Penna, yang jelas keliru, dan untuk ketidakmampuan menggunakan VAR guna memastikan keputusannya," lanjut dia.
Sebagai pengamat, Paolo Ziliani ikut frontal mengutuk tindakan Alessandro Bastoni yang dianggapnya simulasi memalukan.
Apalagi sang bek langsung antusias merayakan hukuman Kalulu setelah kartu merah dicabut.
"Seharusnya dia (Bastoni) dikeluarkan dari lapangan karena simulasi jelas yang dilakukannya."
"Kalulu bahkan tidak menyentuhnya. Bencana wasit yang tak berkesudahan," cuit akun mantan kepala redaksi Sportmediaset itu.
Namun, dalam twit susulan, Ziliani menyodorkan sudut pandang lain.
Insiden Bastoni vs Kalulu sejatinya hanya sebuah benturan lazim dalam riwayat pertandingan sengit Inter vs Juve.
Bedanya, kali ini Si Nyonya Tua yang merasa jadi korban ataupun terzalimi keputusan wasit.
Wasit Federico La Penna memberikan kartu merah kepada Pierre Kalulu dalam laga Inter Milan kontra Juventus di Liga Italia, Sabtu (14/2/2026) di Giuseppe Meazza. (PIERO CRUCIATTI/AFP)Inter Milan yang Jadi Korban
Padahal di masa lalu, Inter Milan juga sering mendapatkan perlakuan serupa akibat ketidaktegasan wasit di lapangan yang diklaim memihak Juve.
Ziliani mengambil tiga contoh paling menonjol, yakni skandal legendaris Mark Iuliano vs Ronaldo (1998), serta insiden Miralem Pjanic vs Raphinha (2018) dan Juan Cuadrado vs Ivan Perisic (2021).
Dalam kasus yang disebut pertama, Iuliano melakukan pelanggaran terhadap sang legenda Brasil di kotak penalti Juventus.
Wasit Piero Ceccarini tidak menggubrisnya. Bola direbut Juve, dibawa ke pertahanan Inter, dan Ceccarini malah menunjuk titik putih di sisi berlawanan setelah menilai Alessandro Del Piero dilanggar.
Kontroversi itu krusial menentukan arah persaingan juara Liga Italia 1997-1998 yang dimenangkan I Bianconeri atas Inter.
Maju dua dekade kemudian, insiden pelanggaran brutal Pjanic terhadap Raphinha juga sangat menguntungkan Juve.
Tendangan kungfu Pjanic cuma dianggap pelanggaran biasa meskipun terjadi tepat di depan mata wasit Domenico Orsato.
Pjanic yang saat itu sudah mendapatkan kartu kuning pun lolos dari pengusiran. Dia berperan dalam kemenangan 3-2 Juventus dan memperkuat posisinya di jalur scudetto.
Baca Juga: Wasitnya Abal-abal, Inter Milan Vs Juventus Memalukan Ditonton Seluruh Dunia
Kacaunya, selepas pertandingan, mantan jaksa FIGC, Giuseppe Pecoraro, menyatakan rekaman audio kejadian tersebut mendadak hilang saat hendak dilakukan investigasi.
"Saya telah menghubungi AIA dan Lega Serie A untuk mendengarkan percakapan audio-video antara VAR dan wasit utama (Orsato)."
"Kami membuka berkas tersebut dan bagian yang tidak terekam adalah satu-satunya yang kami minati; percakapan Orsato dan VAR saat Pjanic tidak dikartu merah."
"Mereka mengatakan itu tidak ada di sana. Kami membutuhkan transparansi yang lebih besar," ujar Pecoraro kepada Il Mattino pada 2020 silam.
Terakhir, insiden Cuadrado menginjak Perisic malah berbuah penalti dari wasit Gianpaolo Calvarese untuk Juventus hingga Bianconeri menang secara dramatis 3-2.
Legenda Bianconeri, Del Piero, justru ikut membela Perisic dan menyebut Cuadrado melakukan diving.
"Perisic tidak melakukan apa-apa. Wasit seharusnya datang untuk menjelaskan apa yang mereka lihat. Cuadrado berpura-pura," kata Del Piero dikutip dari Sempre Inter, Mei 2021.
Cuadrado kicks Perisic with his left leg and gets the penalty pic.twitter.com/LPVaa4RlQP
— L10/M (@ASTOUNDlNGMessi) May 15, 2021
Menurut Ziliani, kontroversi Bastoni vs Kalulu saat ini bertambah besar efeknya karena pengaruh dua petinggi Juve yang berkoar-koar di depan media soal nasib mereka yang merasa terzalimi.
Mantan pemain Brescia itu menegaskan kubu yang kalah hanya berani muncul ke publik jika merasa dirugikan. Sebaliknya, mereka tidak menjelaskan apa pun saat timnya diuntungkan ataupun lawan yang menjadi korban.
"Ingat Ceccarini-Ronaldo, Orsato-Pjanic, Calvarese-Cuadrado, dan semua pertandingan Inter-Juventus yang melanggar aturan? Nah, kemarin seorang wasit merugikan Juve, dan seolah-olah dunia runtuh," cuit jurnalis senior yang juga mantan pesepak bola profesional itu.
"Mengapa Chiellini, yang menyaksikan insiden Orsato (Pjanic vs Raphinha) dari bangku cadangan, tidak mengatakan sepatah kata pun tentang pelanggaran peraturan Orsato terhadap Inter dan mendukung Juventus dalam pertandingan sepenting itu?"
"Orsato sendiri menjelaskan di televisi bahwa dia salah malam itu. Lalu mengapa Chiellini tidak mengatakan sepatah kata pun tentang pelanggaran peraturan yang dilakukan Calvarese terhadap Inter dan menguntungkan Juventus (insiden Cuadrado vs Perisic)?"
"Calvarese sendiri bertahun-tahun kemudian mengaku pemberian penalti kepada Cuadrado adalah kesalahan terburuk dalam kariernya," cuit Ziliani.