0
News
    Home Berita Bulu Tangkis Bulu Tangkis indonesia Featured Spesial

    Indonesia Lihat Peluang, Malaysia Lihat Risiko soal Gebrakan BWF untuk Turnamen Bulu Tangkis Akbar - Bolasport

    7 min read

     

    Indonesia Lihat Peluang, Malaysia Lihat Risiko soal Gebrakan BWF untuk Turnamen Bulu Tangkis Akbar

    (Ki-Ka) Tim bulu tangkis Korea Selatan, China, Indonesia, dan Jepang berpose setelah seremoni penyerahan medali Sudirman Cup 2025 di Xiamen, China, 4 Mei 2025. (PBSI)

    BOLASPORT.COM - Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dan Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM) berbeda pendapat soal perpanjangan hari turnamen-turnamen bulu tangkis akbar.

    Keputusan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) memperpanjang hari turnamen tak sepenuhnya mendapat reaksi positif.

    Kejuaraan Dunia, Piala Sudirman, Piala Thomas dan Uber, serta ajang-ajang BWF World Tour Super 1000 bakal digelar lebih lama dengan lebih banyak peserta.

    Di Kejuaraan Dunia, Piala Sudirman, dan Piala Thomas dan Uber yang merupakan ajang mayor, turnamen dilangsungkan selama 12 hari.

    Sedangkan ajang-ajang Super 1000 seperti All England Open dan Indonesia Open diselenggarakan selama 11 hari dari biasanya 6 hari.

    Inovasi ini bertujuan untuk menghadirkan atensi lebih besar terhadap bulu tangkis serta memberi ruang untuk pemulihan bagi atlet-atlet yang bertanding.

    PBSI melalui Kepala Bidang Hubungan Luar Negeri, Bambang Roedyanto, memberi dukungan terhadap langkah BWF ini.

    Baca Juga: 14 Wakil Indonesia di Zona Kelolosan Kejuaraan Asia 2026, Ubed Mengantre untuk Susul Jonatan dan Alwi

    "Dari sisi penyelenggara, penerapan durasi 11 hari tentu berdampak pada meningkatnya biaya operasional karena waktu pelaksanaan yang lebih panjang," ucap Bambang.

    "Namun PBSI memandang hal ini sebagai investasi jangka panjang untuk mempertahankan posisi Indonesia Open sebagai turnamen premier dunia."

    "Hal ini sekaligus menghadirkan standar penyelenggaraan yang sejalan dengan arah global BWF," tambahnya.

    Bambang menunjuk waktu istirahat yang lebih lama akan membantu pemain untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Kualitas permainan pun diharapkan meningkat.

    Selain kompetisi, PBSI telah memiliki gambaran tentang penyelenggaraan Indonesia Open yang akan dikemas dengan pendekatan sportainment.

    "Dengan durasi yang lebih panjang, penyelenggaraan Indonesia Open memungkinkan hadirnya berbagai elemen hiburan dan aktivasi di luar lapangan pertandingan," katanya.

    "Sportainment menjadi bagian penting untuk menghadirkan pengalaman menonton yang lebih menarik bagi penonton di arena maupun penggemar melalui siaran dan platform digital."

    Indonesia berpeluang menjadi bagian lebih besar dari era bulu tangkis yang baru ini.

    Presiden BWF, Khunying Patama Leeswadtrakul, menawarkan hak tuan rumah untuk Piala Thomas dan Uber 2027 serta Piala Sudirman 2028.

    Hal itu dikatakannya dalam kunjungannya ke Indonesia Arena pada Juni silam.

    Sementara itu, aspek risiko diungkapkan Malaysia yang akan terlibat sebagai tuan rumah ajang Super 1000 dengan Malaysia Open.

    Sekretaris Jenderal BAM, Kenny Goh, tak sepenuhnya mendukung gebrakan baru BWF, terutama karena aspek finansial dan daya tariknya.

    "Jika Anda melihat Piala Thomas dan Piala Sudirman, pada beberapa hari pertama orang-orang tidak tertarik untuk menonton," kata Goh dikutip Bolasport dari New Straits Times.

    "Saya tidak yakin apakah menambah jumlah hari akan membantu. Sebaliknya, kita perlu melihat bagaimana membuat turnamen ini lebih menarik," tandasnya.

    Belum lagi soal aspek saat jadi tuan rumah. Menggelar turnamen besar harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

    Goh menekankan pentingnya sistem pembagian anggaran dan keuntungan antara BWF dan pihak tuan rumah.

    Jangan sampai tuan rumah sudah keluar uang banyak tetapi hasilnya justru banyak masuk di kantong satu pihak (BWF) saja.

    Bila tuan rumah terus menjadi pihak yang rugi, acara turnamen BWF terancam sulit menarik negara-negara yang ingin melakukan bidding.

    "Agar kami dapat mengajukan tawaran untuk semua turnamen besar ini, perlu ada model bisnis yang adil yang dapat memberikan keseimbangan bagi negara tuan rumah dan juga BWF."

    "Bukan berarti kami ingin mencari untung, tetapi ini seharusnya tidak membuat kami bangkrut," imbuhnya.

    Malaysia terakhir kali menjadi tuan rumah ajang beregu mayor saat Sudirman Cup 2013. Adapun Indonesia, perhelatan terakhir terjadi di Piala Thomas-Uber pada 2008.

    Baca Juga: Gebrakan BWF Disentil Legenda Malaysia, Turnamen 11 Hari Bikin Atlet Boncos

    Nikmati berita olahraga pilihan dan menarik langsung di ponselmu hanya dengan klik channel WhatsApp ini: https://whatsapp.com/channel/0029Vae5rhNElagvAjL1t92P

    Komentar
    Additional JS