VAR Sering Mati di Stadion Sultan Agung, Pelatih PSIM Van Gastel: Itu Taktik Bagus buat Kami! - Semua Halaman - Bolasport
VAR Sering Mati di Stadion Sultan Agung, Pelatih PSIM Van Gastel: Itu Taktik Bagus buat Kami! - Semua Halaman - Bolasport.com
BOLASPORT.COM - PSIM Jogja mengatasi Semen Padang dengan skor 1-0 dalam laga yang diwarnai kontroversi VAR mati saat tuan rumah memperoleh penalti.
PSIM Jogja diuntungkan dengan matinya VAR pada laga kontra Semen Padang di pekan ke-16 Super League 2025/26, Minggu (4/1/2026).
Pada laga tersebut, Laskar Mataram menang dengan skor 1-0 berkat gol penalti Ze Valente pada menit ke-64.
Meski begitu kemenangan itu didapatkan dengan cara kontroversial, terutama mengenai perangkat VAR yang menyala-mati-menyala-mati.
Saat laga berjalan beberapa menit, wasit Ko Hyungjin asal Korea Selatan mengomunikasikan kepada kapten kedua tim bahwa VAR dalam kondisi "inactive" atau tidak aktif.
Pada akhir babak pertama, wasit Ko Hyungjin sempat menunjuk titik putih usai sebuah tekel pemain Semen Padang di dalam kotak penalti.
Meski begitu VAR rupanya sudah kembali aktif, dan sang pengadil impor itu bisa meninjau bahwa tekel mengenai bola, sehingga penalti dibatalkan.
Pada babak kedua, Ko Hyungjin kembali memberi tahu VAR tidak aktif menjelang sebuah sepak pojok bagi PSIM.
Malang bagi Semen Padang, tepat setelah itu wasit menunjuk titik putih akibat pelanggaran terhadap pemain PSIM.
Ko Hyungjin sempat menunggu lama untuk menanti sinyal VAR, tetapi tak ada panggilan ke tepi lapangan, sehingga penalti diberikan.
Ini bukan pertama kalinya VAR tidak berfungsi di Stadion Sultan Agung, Bantul, yang tergolong jauh dari pusat kota Yogyakarta.
Momen ketiadaan VAR di atas membedakan antara satu poin atau tiga poin bagi PSIM, serta satu poin atau nol poin bagi Semen Padang.
Usai pertandingan, BolaSport.com menanyai pelatih PSIM Jean-Paul Van Gastel tentang situasi yang menguntungkan timnya tersebut.
"Itu adalah taktik yang bagus," ucap Van Gastel berkelakar, yang disambut tawa awak media.
"Saya tidak tahu, VARnya mati, kemudian ada momen penalti, saya tidak bisa mengubahnya."
"Saya tidak tahu apakah itu penalti atau tidak, pada akhirnya saya merasa itu adalah taktik bagus buat kami," ujarnya.
Van Gastel bisa tertawa atas situasi tersebut, tetapi koleganya di seberang area teknik, Dejan Antonic, tidak dalam mood bercanda.
"Saya tidak bisa diam, saya melihat bagaimana wasit memperlakukan pemain," kata sang pelatih Semen Padang.
"Semoga wasit seperti itu tidak datang lagi ke Indonesia."
"Menit 2 sampai 15 VAR tidak jalan, dia membuat keputusan sendiri, kami hanya ingin keputusan yang jelas, mau menang atau kalah."
"Sakit hati, kita sakit hati, saya sakit hati," teriaknya di ruang konferensi pers.
Tampaknya perlu ada tindak lanjut dari I.League selaku operator kompetisi agar tak ada lagi insiden VAR tidak berfungsi.