0
News
    Home Berita Featured FIFA Piala Dunia Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial

    FIFA Terancam Bangkrut jika Piala Dunia 2026 Batal, Begini Kata Pakar - CNN Indonesia

    9 min read

     

    FIFA Terancam Bangkrut jika Piala Dunia 2026 Batal, Begini Kata Pakar


    KOMPAS.com - Piala Dunia 2026 tengah menghadapi seruan boikot dari beberapa negara yang akan berpartisipasi pada edisi tahun ini.

    Gelaran Piala Dunia 2026 direncanakan berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli, dengan tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sebagai tuan rumah.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Belakangan, mulai bermunculan desakan agar FIFA membatalkan status tuan rumah Amerika Serikat karena tingkah politik Donald Trump yang memengaruhi turnamen tersebut.

    Terbaru, desakan ini muncul dari Jerman, sebagai salah satu kekuatan sepak bola Eropa sekaligus pemegang gelar juara dunia empat kali. 

    Ahok Cerita Alasan Pilih Golf daripada Kelab Malam

    Baca juga: Ancaman Boikot Piala Dunia 2026, Miliaran Dolar Bisa Terbuang Sia-sia

    Laporan dari Tutto Mercato Web menulis jika dalam beberapa hari terakhir, suara-suara di Jerman semakin mendukung boikot turnamen tersebut sebagai respons terhadap ketegangan diplomatik dengan Washington.

    Pernyataan kontroversal Trump tentang Greenland dan ancaman tarif perdagangan baru terhadap Uni Eropa menjadi penyebab ketegangan ini terjadi.  

    Selain Jerman, ancaman boikot juga muncul dari sejumlah negara dengan tradisi sepak bola yang kuat seperti Inggris, Spanyol, dan Skotlandia.

    Baca juga: Kata Eks Presiden FIFA Sepp Blatter soal Seruan Boikot Piala Dunia 2026 

    Seorang pakar keuangan sepak bola Rob Wilson mencoba menjabarkan potensi kerugian yang terjadi jika ada peserta yang memutuskan untuk memboikot Piala Dunia 2026.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Rob Wilson juga memberikan analisisnya tentang kemungkinan FIFA sebagai badan pengatur sepak bola dunia akan mengalami kebangkrutan jika boikot benar-benar terjadi.

    FIFA Berpotensi Bangkrut

    Wilson memberikan peringatan jika memindahkan atau membatalkan Piala Dunia berpotensi membuat badan pengatur sepak bola dunia, FIFA berakhir bangkrut.

    Baca juga: Mengantisipasi Skenario Terburuk dari Panasnya Konflik Iran-AS...

    Bukan tentang biaya, setidaknya ada sejumlah alasan mengapa hal tersebut mustahil dilakukan oleh FIFA mengingat besarnya komponen yang dilibatkan dalam turnamen ini.

    "Biaya bukanlah masalah besar. Yang menjadi masalah adalah kontrak, logistik, pengaturan keamanan, infrastruktur siaran, dan semua hal legal yang akan muncul," kata Wilson dikutip dari Sportbible.

    Selain itu, ia memperkirakan jika anggaran untuk Piala Dunia bisa mencapai 4 miliar dolar AS (Rp67 triliun).

    Baca juga: Sepp Blatter Dukung Seruan Boikot Piala Dunia 2026 di AS

    Setiap kota penyelenggara, menghabiskan dana hingga 250 juta dolar AS (Rp 4,1 triliun) untuk renovasi sejumlah aspek pendukung Piala Dunia.

    "Anggaran untuk menyelenggarakan Piala Dunia hampir mencapai 4 miliar dolar AS. Kota-kota tuan rumah akan menghabiskan lebih dari 250 juta dolar AS per kota untuk taman penggemar, proyek transportasi, peningkatan jumlah kamar hotel, dan berbagai hal lainnya."

    "Jadi secara logistik hal ini benar-benar tidak dapat diubah saat ini," tegasnya.

    Baca juga: Ide Boikot Piala Dunia 2026 Muncul, Sikap Trump ke Afrika Disorot

    Kehilangan Pendapatan dari Sektor Strategis

    Meski ancaman boikot sangat mungkin terjadi, relokasi tuan rumah bukan hal yang masuk akal dilakukan. 

    Ia menyebut jika opsi pengunduran jadwal lebih mungkin untuk dilakukan bila berkaca dari era COVID beberapa tahun lalu.

    "Kami sebenarnya tidak melihat relokasi paksa untuk acara seperti ini. Bahkan ketika COVID terjadi, acara ditunda dan diundur setahun." 

    Baca juga: Sepp Blatter Dukung Seruan Boikot Piala Dunia 2026 di AS

    "Biaya untuk memindahkan Piala Dunia secara paksa ke negara tuan rumah baru akan melebihi 7 miliar dolar AS, tetapi itu belum termasuk biaya tambahan untuk kompensasi, rencana perjalanan baru, dan risiko gangguan," jelasnya.

    Profesor Keuangan Olahraga Terapan dan Kepala Pendidikan Eksekutif di UCFB itu menambahkan jika FIFA dan pemangku kepentingan akan menjadi pihak yang paling terdampak.

    Setidaknya, mereka kehilangan potensi pendapatan dari sponsor, akomodasi, hingga sektor pariwisata bila melihat modal yang dikeluarkan.

    Baca juga: Pemerintah Jerman Dukung Boikot Piala Dunia 2026 Karena Isu Greenland

    Penundaan Lebih Masuk Akal Dilakukan

    "Bisakah hal itu membuat FIFA dan pemangku kepentingan lainnya bangkrut? Berpotensi karena ada begitu banyak penggemar yang sudah membayar untuk bepergian. 

    "Ada penyiar, sponsor, stadion, infrastruktur yang sedang dibangun dan proyek-proyek lainnya, dan hilangnya pendapatan dari aktivitas tambahan seperti kamar hotel, restoran, aktivitas pariwisata bagi mereka yang akan berkunjung untuk Piala Dunia," tuturnya lagi.

    Selain itu, pemindahan tuan rumah juga memungkinkan para penonton mengajukan klaim ganti rugi dan akan menjadi gugatan terbesar dalam sejarah.

    Baca juga: Ikuti Jerman, Inggris dan Skotlandia Desak Boikot Piala Dunia 2026

    "Semua orang akan ingin mengajukan klaim atas kerugian jika Piala Dunia dipindahkan. Seluruh kejadian itu akan menjadi gugatan kelompok terbesar dalam sejarah," tandasnya.

    Sehingga, ia menyimpulkan jika pembatalan dengan penundaan waktu penyelenggaraan lebih disarankan meski ia tahu hal itu tidak mungkin dipilih oleh FIFA.

    "Kemungkinan besar akan berakhir dengan pembatalan dan kemudian dimulai kembali pada tahun 2030, tetapi saya rasa itu tidak akan terjadi," Wilson menambahkan.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS