Ayah Marcus Fernaldi Gideon dan Pendiri Gideon Badminton Academy, Kurniahu Gideon Berpulang - Bolasport
Ayah Marcus Fernaldi Gideon dan Pendiri Gideon Badminton Academy, Kurniahu Gideon Berpulang
BOLASPORT.COM - Ayah mantan pebulu tangkis ganda putra Indonesia, Marcus Fernaldi Gideon, Kurniahu Gideon, meninggal.
Hal ini dikonfirmasi melalui Gideon Badminton Academy yang menyampaikan berita duka tersebut pada Kamis (29/1/2026).
"Keluarga besar Gideon Badminton Academy menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Bapak Kurniahu Tjio Kay Kie, pendiri dan Pembina Gideon Badminton Academy," tulis akun Gideon Badminton Academy.
"Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan penghiburan."
"Dedikasi, ketulusan, dan jasa beliau dalam membangin serta membina Gideon Badminton Acedemy akan selalu kami kenang dan menjadi inspirasi bagi kami semua."
Kurniahu Gideon wafat dalam usia 65 tahun. Saat masih muda, dia adalah salah satu tunggal putra Indonesia yang satu generasi dengan dua tunggal putra terbaik Indonesia, Liem Swie King dan Rudi Hartono.
Saat berbincang dengan Tribun Network, Jumat (26/3/2021) kemarin, Kurniahu mengungkapkan serangkaian prestasi yang telah diperolehnya selama menjadi pebulu tangkis profesional.
Salah satu prestasi terbesarnya yaitu menjadi pebulu tangkis ranking tujuh (7) dunia kategori tunggal putra pada 1981.
"Saya pernah juara Indonesia. Final di Dutch Open tapi waktu itu kalah, terus final Thailand Open."
"Di Jepang kemudian nomor (peringkat) tiga, waktu itu yang juara Rudi Hartono. Juara di Brunei, juara Merdeka Games. Itu saya juara-juara gitu lumayan. Bisa ranking 7 dunia itu kan lumayan."
Selama karier profesionalnya, total Kurniahu telah mengikuti All England sebanyak tiga kali.
Belum beruntung, Kurniahu menelan kekalahan beruntun dalam tiga kesempatan mengikuti ajang bulu tangkis dunia paling bergengsi tersebut.
"Setiap All England itu saya kalah terus. Tiga kali saya All England kalah terus. Jadi melalui Marcus terobati," tutur Kurniahu.
Kurniahu menceritakan, salah satu hambatan terbesarnya tiap kali mengikuti All England yaitu kondisi yang sudah tidak fit.
Penyebabnya, ada mekanisme di mana para pemain Indonesia, yang ingin berlaga di Yonex All England, harus mengikuti tahapan seleksi di dalam negeri.
Seleksi dalam negeri saat itu selalu berlangsung ketat.
Para pebulu tangkis Indonesia harus saling gempur dan mengerahkan performa terbaik, lantaran hanya juara satu dan dua yang akan dikirim ke Yonex All England.
"Dulu mau ke All England seleksi dulu di dalam negeri. Memang sudah capek mungkin, gempur-gempuran di interen. Kita seleksi, juara satu dan dua itu baru diberangkatkan All England," ujar pria kelahiran Surabaya tersebut.
"Kami gempur-gempuran dulu di dalam, abis itu ke All England kan sudah loyo juga. Sudah banyak tenaga terkuras (kurang fit). Semua sih kepingin juara, tapi kan lawannya itu lumayan-lumayan."
Kurniahu sekaligus mengungkapkan bahwa ada dua pebulut angkis yang tidak perlu mengikuti tahapan seleksi untuk bisa berlaga pada All England.
Dua pebulu tangkis itu adalah Liem Swie King dan Rudi Hartono yang menjadi dua tunggal putra terbaik Indonesia saat itu.