Ada Peran Pemain Keturunan Indonesia di Balik Pemecatan Amorim oleh Man United - Semua Halaman - Bolasport
Ada Peran Pemain Keturunan Indonesia di Balik Pemecatan Amorim oleh Man United - Semua Halaman - Bolasport.com
Sosok yang dimaksud ialah defender tangguh sekaligus wakil kapten Leeds United, Pascal Struijk.
Bek 26 tahun itu tampil solid menggalang pertahanan The Whites saat menjamu Man United di Elland Road, Minggu (4/1/2026).
Laga pekan ke-20 Liga Inggris tersebut menandakan pertandingan terakhir Ruben Amorim bersama Setan Merah.
United yang lebih diunggulkan harus pulang dengan kecewa karena ditahan imbang 1-1.
Struijk bukan cuma piawai meminimalkan ancaman dari awak United.
Dialah sosok kreator gol pertama dalam pertandingan ini melalui pasokan asis kepada Brendan Aaronson (62').
Struijk bergerak cepat mencegah bola jatuh ke kaki Joshua Zirkzee setelah sang rival diumpan Diogo Dalot.
Awalnya tampak sebagai sapuan, hantaman bola dari kaki Struijk di wilayah permainan timnya melesat jitu ke lini depan.
Di sana menunggu Aaronson, yang berlari kilat melewati Ayden Heaven.
Ia mendorong bola ke kotak penalti, lalu melepaskan tembakan akurat ke gawang United sebelum dicegah Lisandro Martinez.
Setan Merah bereaksi dengan menyamakan skor lewat gol Matheus Cunha tiga menit kemudian.
Namun, cukup di situ usaha anak asuh Amorim untuk mengincar comeback.
Tamu dari Manchester gagal menang. Sehari kemudian, pemecatan Ruben Amorim diumumkan klub.
Barangkali nasib Amorim bisa berbeda kalau Pascal Struijk dkk berhasil dibobol gol tambahan pada sisa waktu. Namun, hal itu tak terjadi.
Oleh sejumlah media dan portal pangkalan data, Struijk dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam laga tersebut.
Daily Mail memberinya ponten 7,5, sedangkan Flashscore lebih tinggi: 8,1.
Struijk dipuji berhasil menjaga pertahanan sekaligus berperan penting dalam penyerangan.
Pemuda kelahiran Belgia yang memiliki darah Indonesia dari garis keturunan ibunya itu terus diandalkan memasuki musim ketujuhnya di tim senior Leeds.
Struijk sempat diduga bakal terancam ketika manajemen The Whites mendatangkan bek sentral anyar, Jaka Bijol, musim panas lalu.
Bukannya tersingkir, pemain jebolan akademi Ajax itu cemerlang dalam peran barunya sejak pelatih Daniel Farke memainkan skema tiga bek tengah.
Struijk menjalani tugas bek sentral-kiri, sedangkan Bijol melengkapinya di sentral-tengah.
Calon Naturalisasi
Pascal Struijk digadang-gadang sebagai calon pemain naturalisasi 'Grade A' berikutnya bagi timnas Indonesia.
Ia hanya sempat membela tim U-17 Belanda pada 2016, seangkatan dengan anak Patrick Kluivert, Justin.
Struijk belum pernah memperkuat tim senior Oranje sehingga kemungkinannya 'direkrut' PSSI masih terbuka.
Secara pribadi, dia masih mengincar satu tempat sebagai pelapis Virgil van Dijk dkk di skuad senior.
Tugas PSSI dan sang pelatih baru, John Herdman, harus lebih getol demi meyakinkan sang defender jika ingin mengajaknya gabung memperkuat negara leluhur.
Soalnya dalam wawancara dengan Voetbal International beberapa tahun lalu, Pascal Struijk mengungkap keinginannya sangat besar untuk masuk timnas Belanda.
Ia juga tidak menutup peluang membela negara kelahirannya, Belgia.
"Hati saya tentu saja untuk Oranje, tapi saya tidak yakin mereka memiliki perasaan yang sama bagi saya," ucap Struijk.
"Indonesia bukan sebuah opsi bagi saya. Anda tahu, kalau tak ada siapa pun (tim nasional) yang tertarik, saya bisa saja gabung Inggris."
"Tahun depan (sekarang, 2026) saya sudah berkarier di Inggris selama lima tahun dan bisa dianggap sebagai pesepak bola lokal."
"Tentu saja itu sangat tidak mungkin, tetapi siapa tahu..."
"Skenario ideal saya adalah timnas Belanda dan pergi ke Piala Dunia jika memungkinkan," tuturnya.
