0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Tidak Ada Kategori

    Bagas Satria, Aremania Korban Tragedi Kanjuruhan Malang Kini Masih Lumpuh, Masih Berjuang Sembuh - Tribunnews

    3 min read

    Bagas Satria, Aremania Korban Tragedi Kanjuruhan Malang Kini Masih Lumpuh, Masih Berjuang Sembuh

    Senin, 23 Januari 2023 09:57
    Bagas Satria (20), warga Sukoharjo, Kota Malang, Jawa Timur, Senin (16/1/2023). Ia merupakan salah satu korban luka tragedi Kanjuruhan bernama yang tak bisa jalan.  Pendampingan kepadanya tersebut terus dilakukan karena hingga kini masih ada beberapa korban luka Tragedi Kanjuruhan yang belum pulih baik psikis maupun fisik. SURYA/PURWANTOBagas Satria (20), warga Sukoharjo, Kota Malang, Jawa Timur, Senin (16/1/2023). Ia merupakan salah satu korban luka tragedi Kanjuruhan bernama yang tak bisa jalan. Pendampingan kepadanya tersebut terus dilakukan karena hingga kini masih ada beberapa korban luka Tragedi Kanjuruhan yang belum pulih baik psikis maupun fisik. SURYA/PURWANTO

    SURYAMALANG.com, Malang - Bagas Satria, korban tragedi Kanjuruhan lainnya juga masih berjuang dari kelumpuhan kaki. Remaja berusia 19 tahun itu, kini masih belum bisa menggerakkan kaki kiri.  Saat ditemui Surya di rumahnya yang terletak di Jalan Gatot Subroto gang II, Klojen Kota Malang, Bagas masih terbaring lemah di tempat tidurnya. Kejadian ini persis ketika Surya menghampiri Bagas sepekan setelah tragedi Kanjuruhan. Hanya saja, kini kaki kiri Bagas sudah tidak dibalut dengan gips.

    Hanya bekas jahitan dan bekas luka yang tampak dari kaki kiri anak dari Moh Sopi'i itu. Meski sudah lebih dari 100 hari berlalu, Bagas masih merasakan nyeri. "Kaki kiri saya masih belum bisa digerakkan. Kalau digerakkan terasa nyeri. Begitu juga saat saya angkat dari kasur," ucap Bagas sembari memegangi kaki.

    Di malam kelam 1 Oktober 2022 itu, Bagas mengalami patah kaki kiri setelah terjepit pagar tangga Stadion Kanjuruhan di pintu 12. Kaki bagas terjepit di antara tangga dan suporter yang berdesak-desakan untuk menyelamatkan diri dari gas air mata. Dia bergelantungan di pagar. Kepala Bagas berada di bawah, dan kakinya masih terjepit di antara pagar. Di situ Bagas hanya pasrah.

    Dia tidak bisa melihat sekelilingnya. Yang dia lihat hanyalah pintu kamar mandi dan teriakan histeris permintaan tolong Aremania. "Posisi saya bergelantungan hampir sekitar 30 menit. Saya tidak bisa apa-apa. Karena kepala saya di bawah dan menghadap tembok tangga. Saya hanya bisa melirik pintu kamar mandi di pintu 12 dan mendengar jeritan Aremania," ungkapnya.

    Kini Bagas mengandalkan bantuan egrang untuk beraktivitas. Kondisi ini tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh remaja penghobi ikan hias itu. Dalam proses pemulihan, Bagas rutin tiap sekali dalam sepekan berobat ke tukang pijat di daerah Tumpang, Kabupaten Malang. Setiap hari, dia juga rutin tiga kali sehari mengonsumsi obat.

    Obat ini merupakan resep dokter RSUD Kota Malang. Saat Tragedi Kanjuruhan lalu, Bagas sempat menjalani perawatan di RSUD Kota Malang. "Kata tukang pijat, kaki saya sudah nyambung, tapi dibuat jalan belum bisa. Katanya ototnya masih belum ada," ujarnya.

    Untuk menebus obat, Bagas harus merogoh kocek Rp 50 ribu - Rp 100 ribu. Sedangkan untuk pijat Bagas membayar Rp 100 ribu - Rp 200 ribu. "Untuk tukang pijatnya sebenarnya seikhlasnya. Sedangkan obat harus saya konsumsi rutin. Biasanya saudara yang membelikan. Resepnya dari rumah sakit," ujarnya.

    Tempat kerja tutup

    Tentu saja, hingga kini Bagas belum bisa kembali bekerja. Dia sebelumnya menjadi pegawai di Warung Ayam Geprek di daerah Rampal, Kota Malang. Setelah menjadi korban tragedi Kanjuruhan, Bagas mengaku belum melakukan komunikasi dengan tempat kerjanya. Namun, dalam beberapa kesempatan saat berobat ke Tumpang, dia berinisiatif untuk melewati tempat kerjanya.

    Ternyata, tempat kerjanya sudah tutup. Dia tidak tahu alasan kenapa Warung Ayam Geprek tersebut tidak beroperasi. "Saat ke Tumpang itu saya minta lewat tempat tempat kerja saya. Pertama lewat tutup. Saya lewat lagi waktu berobat juga tutup lagi," terangnya.

    Saat ini Bagas belum memikirkan apa yang nanti akan dia kerjakan ketika sembuh nanti. Tetapi dia sudah dijanjikan untuk bekerja di sebuah kafe dan warung makan saat sembuh nanti. "Tawaran pekerjaan sudah ada dari relawan. Tapi saya ingin sembuh dulu agar bisa kembali berjalan normal seperti semula," ucapnya.

    Meski mengalami patah kaki saat tragedi Kanjuruhan, Bagas mengaku tak trauma. Dia berharap tragedi Kanjuruhan tidak terulang lagi. "Kalau trauma tidak. Pinginnya kejadian kemarin tak terulang lagi. Bisa nonton Arema dengan nyaman dan aman," tandasnya.

    (rifky edgar)


    Informasi lainnya dan terkini di https://opsimin.wordpress.com/
    Opsi Media Informasi Group X Kamidi
    [Category Opsiin, Media Informasi, Arena, Sepak Bola, Sepak Bola Indonesia]
    [Tags Featured, Pilihan,Bagas Satria, Tragedi Kanjuruhan, Sepak Bola, Sepak Bola Indonesia, Aremania]

    Komentar
    Additional JS