Arsenal Bobol MU saat David De Gea Cedera, Sah? Cek Aturannya - Kumparan
6 min read
Arsenal Bobol MU saat David De Gea Cedera, Sah? Cek Aturannya

Baca berita bebas iklan lewat aplikasi
Install
Sebab, gol itu terbilang 'lucu' dan tampak kontroversial bagi sebagian orang. Ada insiden kemelut di depan gawang MU saat Arsenal mendapat sepak pojok sebelum gol tercipta.
Pada menit 14, Smith Rowe menggetarkan jala MU via tendangan luar kotak penalti, tetapi sempat tidak disahkan karena David De Gea sudah dalam posisi jatuh karena cedera. Ia mengalami benturan dengan Fred saat momen sepak pojok.
Namun, wasit Martin Atkinson kemudian melakukan pengecekan VAR dan akhirnya mengesahkan gol Smith-Rowe. Alasannya adalah karena De Gea dijatuhkan oleh rekan setimnya sendiri, Fred, bukan oleh pemain Arsenal. Bagaimana aturan sebenarnya?

Jika melihat tayangan ulang, insidennya memang hanya melibatkan pemain MU. Tumit kanan David De Gea tampak terinjak oleh kaki Fred saat momen sepak pojok Arsenal, artinya memang tidak ada pelanggaran dari kubu tim tamu.
Masalah lain, situasinya kan kiper cedera. Bahkan sebelum Smith Rowe menendang, De Gea sudah terjatuh dan meringis kesakitan. Pertanyaannya, apakah pertandingan tak otomatis disetop jika kiper cedera?
IFAB melalui Laws of the Game edisi 2021/22 mengatur terkait hal tersebut. Berikut ini kami jabarkan aturannya. Ini mengacu pada Pasal 5 tentang Wasit dan Poin 3 yang mengatur soal Kuasa dan Tugas mereka.
1) Wasit memungkinkan permainan berlanjut sampai bola keluar dari permainan jika seorang pemain hanya cedera ringan.
2) Wasit bisa menyetop laga jika seorang pemain terluka parah dan memastikan bahwa pemain itu dikeluarkan dari lapangan permainan. Pemain yang cedera tak boleh dirawat di lapangan permainan dan hanya boleh masuk kembali usai permainan dimulai kembali; jika bola dalam permainan, pemain masuk kembali harus dari touchline. Jika bola keluar dari permainan, bisa dari garis batas mana pun. Pengecualian terhadap persyaratan untuk meninggalkan lapangan permainan hanya jika:
- Seorang penjaga gawang cedera;
- Kiper dan pemain outfield bertabrakan dan membutuhkan perhatian;
- Pemain dari tim yang sama telah bertabrakan dan membutuhkan perhatian;
- Cedera parah telah terjadi;
- Seorang pemain cedera sebagai akibat dari pelanggaran fisik yang membuat lawannya diperingatkan atau diusir (misalnya pelanggaran yang sembrono atau serius), jika penilaian/perlakuan diselesaikan dengan cepat;
- Tendangan penalti telah diberikan dan pemain yang cedera akan menjadi penendang.
3) Wasit memastikan bahwa setiap pemain yang berdarah meninggalkan lapangan permainan. Pemain hanya dapat masuk kembali setelah menerima sinyal dari wasit , yang harus dipastikan bahwa pendarahan telah berhenti dan tak ada darah pada peralatan.
4) Jika wasit telah mengizinkan dokter dan/atau pembawa tandu untuk memasuki lapangan permainan, pemain harus pergi dengan tandu atau berjalan kaki. Seorang pemain yang tidak mematuhi harus diperingatkan untuk perilaku tidak sportif.
5) Jika wasit telah memutuskan untuk memberi peringatan atau mengeluarkan pemain yang cedera dan harus meninggalkan lapangan permainan untuk perawatan, kartu harus ditunjukkan sebelum pemain pergi.
6) Jika permainan tidak dihentikan karena alasan lain, atau jika cedera yang diderita pemain bukan akibat pelanggaran, permainan dimulai kembali dengan bola yang dijatuhkan.

Nah, dalam kasus laga MU vs Arsenal, kita dapat mengacu pada poin 1 dan poin 6. Kenapa wasit tak menyetop laga? Pertama, karena mungkin dia berpikir bahwa itu hanya cedera ringan. Kedua, karena cedera yang diderita De Gea bukan karena salah pemain Arsenal.
Meski begitu, para pemain dan fan MU mestinya tak perlu lagi memusingkan soal gol itu. Sebab pada akhirnya, mereka menang.
Gol MU dicetak oleh Bruno Fernandes (44') dan Cristiano Ronaldo (52' & 70'). Gol Arsenal dicetak oleh Emile Smith Rowe (14') dan Martin Odegaard (54').
Dengan hasil ini, MU kini menduduki peringkat 7 di klasemen sementara Liga Inggris 2021/22. Di sisi lain, Arsenal bertengger di urutan 5.